Opo

PROLOG Sejak umurku 2 bulan, aku dibesarkan oleh sebuah keluarga, dan aku rasa mereka sangat menerima keberadaanku. Kebetulan aku ini adalah kucing yang sangat tampan untuk kaumku, dengan warna bulu kuning keemasan, wajah lebar, mata biru bundar, kaki gempal, dan buntut yang tebal. Namun seiring bertambahnya usiaku, warna mataku berubah menjadi kuning, menambah daya tarikku. … Continue reading Opo

Laki-laki Memfoto Merpati, Pembaca Buku

This story I dedicated to my good friend. She likes to imagine, so I write down her imagination as a story. Dua burung merpati putih itu mematuk-matukkan paruhnya ke jalanan setapak taman tengah kota. Tidak jauh dari mereka, seorang laki-laki berkacamata, memakai celana kedombrong dan kaos belel diselubungi flannel lusuh menungging-nungging mengerek objek yang terfokus … Continue reading Laki-laki Memfoto Merpati, Pembaca Buku

Kado di Dua Puluh Tiga

Aku menelan getirnya dingin selepas kembalinya sang surya ke peraduan. Sendiri, di awal tahun. Canda datang mengawali esok hariku, namun aku lebih memilih sepi sebagai kawan. Aku menatap nanar ke langit, membayangkan Tuhan yang entah seperti apa rupanya. Mataku memicing, menatap sinis langit yang bisu. "Bukan awal yang baik di tahun yang baru. Orang yang … Continue reading Kado di Dua Puluh Tiga

Mimpi Sedihku

Aku terkantuk-kantuk dibuatnya. Bus ini tidak begitu nyaman, kakiku yang cukup panjang harus tertekuk cukup lama supaya bisa memberikan ruang untuk penumpang yang berdiri. Aku melemparkan pandangan keluar, cahaya merah menyala dari mobil-mobil yang terparkir di jalan entah sampai kapan.  Macet Ibu Kota menjadi santapan malamku setiap hari usai pulang kerja. Beginilah menjadi manusia kota, … Continue reading Mimpi Sedihku