Super Horor (Part III)

Previous Part.. Super Horor (Part II) Mereka keluar dari kamar itu tanpa menutup pintu kamar kembali. Dan mereka menemukan sosok Kyuhyun di depan laptopnya. Namun, tidak seperti sedang bermain starcraft. Wajahnya terlalu serius dan sangat aneh. “Itu dia Kyuhyunnya.” Kata Eunhyuk. “Hya, Kyuhyun. Kau itu sudah besar masih saja main starcraft.” Ledek Eunhyuk. Tapi Kyuhyun … Continue reading Super Horor (Part III)

Super Horor (Part II)

This is a continuation of the previous part.. Super Horor (Part I) Tiba-tiba, tuts piano berbunyi sendiri satu kali. Karu begitu kaget dan langsung memeluk Wookie. Wookie melihat seorang anak perempuan berwajah pucat berdiri memandangi mereka dengan jari telunjuk berada di salah satu tuts piano. Ketika Wookie berkedip, anak perempuan itu hilang dalam sekejap. “Ada … Continue reading Super Horor (Part II)

Bila dan Saja

Bila melupakanmu begitulah sulit rasanya Izinkan aku untuk tidak memikirkanmu, Sedetik saja Bila membencimu begitulah sulit rasanya Izinkan aku untuk tidak mencintaimu, Sedetik saja Bila melepasmu begitulah sulit rasanya Izinkan aku untuk jatuh cinta lagi Seorang saja

Dingin

Malam ini dingin. Selimut pun tak mampu menghangatkan. Pikiran ini teruslah melaju pada dirimu yang perlahan namun pasti mulai membenciku. Bagaimana bisa berawal cinta berujung benci? Kamu bisa. Aku tak mampu. Ternyata rangkaian janji yang dulu terasa begitu abadi bisa fana juga. Kini aku masih percaya rangkaian itu selalu abadi, begitu asyik percayanya hingga tidak … Continue reading Dingin

Ke Aceh Sendokiran

Kejadiannya bulan Juni. Seperti trip-trip audit sebelumnya, aku memesan taksi sehari sebelum pemberangkatan. Seperti sebelum-sebelumnya juga, aku selamat sampai Bandara Soekarno Hatta. Tapi yang tidak biasa, kondisi bandara saat itu sangat crowded. Aku sudah mulai panik ketika jarum jam sudah mendekati waktu take off. Tiga orang teman satu timku sudah bawel memintaku buru-buru akhirnya aku menyelak … Continue reading Ke Aceh Sendokiran

Sandaran Pertama

Lemari kubuka lebar-lebar, jari telunjukku terjepit di antara gigi seriku. Kaki bertepuk-tepuk di lantai sementara mulutku ribut menimbulkan suara "Engg.. Engg.." Pusing memang menentukan baju untuk kencan bersama kekasih tersayang. Baju berjajar rapih di lemari namun tidak ada satu pun yang rasanya cocok kukenakan. Hari semakin mendekati siang, aku pun memilih kemeja berwarna maroon dan … Continue reading Sandaran Pertama