Wisata Samosir & Si Gale-Gale, Boneka yang Mengurangi Kesedihan Raja

IMG-20160423-WA0036

Pada 13 April 2016 lalu, dalam rangka perjalanan dinas untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sebuah kota yang tidak terlalu besar, sepanjang jalan aku menemukan kebun karet dan kebun sawit milik PTPN (PT Perkebunan Nusantara), dan tidak sedikit truk-truk besar melintas beriringan dengan motor-motor warga yang hendak pergi ke swalayan. Maklum saja, Kisaran merupakan kota lintas Sumatera. Begitu, kata warga sekitar.

20160413_061712
Sebelum Landing

Kisaran merupakan sebuah kota yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, yang tidak lain ibu kota dari Kabupaten Asahan. Kota Kisaran sendiri terdiri dari dua kecamatan, yakni Kisaran Barat dan Kisaran Timur. Berhubung Kisaran bukanlah kota besar, aku pun pernah menempati keduanya. Kisaran Timur tempat kantor cabang yang aku kunjungi (bekerja), Kisaran Barat tempat aku dan teman satu timku beristirahat (kos-kosan).

20160416_122112
Pohon Karet

Saat itu, kami sedang bekerja di sebuah ruangan dealing yang tertutup rapat—memeriksa tumpukan dokumen yang tampaknya tidak kunjung kelar. Dengan lantunan lagu Justin Bieber – Baby, tangan kami bekerja, mata kami melotot ke laptop, namun mulut kami bernyanyi dengan “pede”nya. Tidak peduli seberapa buruknya suara kami. Tiba-tiba, dari luar seseorang mengetuk pintu. “Belum pulang, Buk?” Tanya Pak Dedi, salah satu head disana. Kami hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman yang menyiratkan jawaban, “Pak, lihat ke sana. Terlalu banyak dokumen yang harus kami periksa.”

“Sabtu sudah ada acara belum, Buk? Kalau belum, kita ke Danau Toba.” Ajaknya.

Jujur saja, saat mendengar Danau Toba hatiku begitu gembira. Danau Toba yang dulunya hanya aku baca di Buku Geografi, tiba-tiba terbayang di depan mata. Aku melirik ke teman satu timku, berharap ia pun setuju. Kami pun tidak memberikan jawaban saat itu juga. “Kalau tim yang di Siantar dan Medan mau, kita kesana ya.” Ujar teman satu timku yang bernama Mbak Diza.

Singkat cerita, semuanya tertarik untuk jalan-jalan ke Danau Toba. Kalian pasti tahu bagaimana bahagianya diriku saat itu. Aku dan Mbak Diza (Tim Kisaran), Mbak Heni dan Ibnu (Tim Siantar), dan Mas Arif (Tim Medan) pada hari Sabtu, tanggal 16 April 2016 berangkat ke Parapat. Tiba di Parapat, kami harus menunggu kapal untuk mengangkut kami menyeberang ke Pulau Samosir. Pulau Samosir adalah sebuah pulau vulkanik di tengah Danau Toba di provinsi Sumatera Utara. Sebuah pulau dalam pulau dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (Wikipedia).

20160416_172836
Danau Toba

Kami menyeberang sudah sore, sehingga pemandangan dari kapal tidak terlalu jelas. Aku sengaja berdiri di dek kapal untuk menikmati angin danau. Dingin!

20160416_173101
Kapal yang akan kami taiki

Setibanya di sana, kami mencari warung yang menjual masakan yang dapat kami makan. Berhubung kami muslim semua, jadi saat itu agak susah untuk mendapat rumah makan yang bebas dari makanan yang tidak bisa kami makan. Kalau mau cari BPK sih, banyak J . Kami mampir di rumah makan muslim, memang begitu tulisannya dan memesan makanan dengan cara dihidang setelah itu bermalam di Carolina Hotel Tuktuk Siadong Samosir. Arsitektur bangunannya sangat mencerminkan kearifan lokal. Letaknya tepat di sisi danau sehingga pada pagi hari, aku dengan handphone seadanya berfoto sendiri menggunakan timer.

20160417_061808
Asyik sendiri
20160417_085455
Ala ala

Setelah sarapan, kami semua berangkat menuju Pantai Parbaba Samosir. Biasanya, pantai berada di tepi laut. Namun untuk Pantai Parbaba yang terletak di Desa Hutabolon, Panguruan ini berada di tepi Danau Toba sehingga airnya pun air tawar bukan air asin. Kami tidak berlama-lama di sana karena saat itu pantai sedang penuh-penuhnya. Banyak sekali keluarga yang menggelar tikar di sisi pantai.

20160417_114120
Ala-ala model video clip

Kami lanjut ke Pemandian Air Panas Rangat Panguguran karena jarak yang tidak begitu jauh dari Pantai Parbaba. Itu pun bukan destinasi yang kami rencanakan  sebenarnya sehingga kami hanya berfoto saja di sana. Karena hari sudah siang, kami lanjut ke Pasar Tomok untuk membeli oleh-oleh dan nonton Sigale-gale. Disinilah puncak keseruan dari wisata singkatku di Pulau Samosir. Aku yang orangnya kepoan, akhirnya bertanya apa itu Sigale-gale? Seorang Kakak disana menjelaskan padaku:

Pada zaman dahulu kala, di sebuah perkampungan bernama Kampung Lumbun Suhi ada seorang Raja bernama Raja Rahat yang sudah lama ditinggal mati oleh isterinya. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Manggale. Pada suatu hari, Raja memerintahkan Putra Mahkota Manggale untuk pergi berperang di daerah yang dikuasai Ayahnya dengan tujuan suatu hari nanti ketika menjadi Raja, Manggale sudah memiliki pengalaman. Manggale pun menuruti perintah orangtuanya itu. Namun nahas, sang Raja mendapat kabar dari prajurit yang dipimpin oleh Manggale bahwa Manggale tewas di peperangan.

Sang Raja pun sangat sedih atas kematian anak satu-satunya itu. Ia sangat menyesal karena telah mengirimkan anaknya untuk berperang. Banyak warga yang datang untuk menghibur namun tidak berhasil. Karena sedih berkepanjangan, Raja pun sampai jatuh sakit. Hingga kabar itu terdengar oleh seorang Datu (dukun sakti). Sang Datu mendatangi Raja dan meminta izin untuk membuatkan boneka yang mirip dengan Manggale. Raja pun menyetujuinya. Datu pun berangkat ke hutan dan membuat boneka dari bahan kayu dengan rupa dan ukuran yang sangat mirip dengan Manggale.

IMG-20160423-WA0028
Menari dengan Si Gale-gale

Setelah boneka berhasil dibuat, dibawalah boneka ke Raja. Oleh tetua adat, diselenggarakan upacara pemanggilan roh dengan cara ditiupkan Sordam sebuah alat musik Batak Toba yang terbuat dari bambu, bentuknya seperti seruling panjang. Konon katanya, roh Manggale pun masuk ke dalam boneka kayu tersebut dan bisa menari tanpa ada yang menggerakkan seiraman dengan lantunan sordam. Boneka Si Gale-gale pun menemani sang Raja hingga Raja wafat.

IMG-20160423-WA0030
Menari dengan Sigale-gale

Begitulah cerita yang aku dapat dari warga sekitar. Katanya, dulu Sigale-gale memang bisa bergerak sendiri karena ada roh yang masuk ke dalam boneka tersebut. Namun Sigale-gale yang aku lihat saat itu, ia berdiri di atas peti dan ada orang yang menggerakkan di belakangnya. Sigale-gale menari seirama dengan alunan musik yang telah direkam sebelumnya. Aku memiliki kesempatan untuk ikut tortor (menari) dengan dipandu oleh seorang Bapak disana. Tentu saja, dengan ulos yang terselempang di bahuku.

IMG-20160423-WA0019
Bersenda gurau

Selesai menari dengan Sigale-gale, kami pergi ke rumah adat dan berpakaian Bak Pengantin Batak. Setelah sore hari tiba, kami pun kembali ke Kota Kisaran untuk kembali berkutat dengan dokumen-dokumen yang seperti tidak pernah habis untuk diperiksa.

20160417_145424
Para Pengantin

N.B: Aku tidak bisa medeskripsikan pengeluaran saat berada di sana, karena semua catatan pengeluaran sudah hilang dan hanya memori kebahagiaannya saja yang ingat! Hehe..

87 thoughts on “Wisata Samosir & Si Gale-Gale, Boneka yang Mengurangi Kesedihan Raja

    1. iya enak tin, tp harus ngebut kerjanya biar engga terbengkalai gara2 jalan2 😀

      iya, dulu aku ga kepikiran buat dimasukin ke blog tin, jadi aku ga foto bonekanya aja. tp difoto dari jauh. nanti aku kiriimin yaa foto sigale2

      Like

  1. mau banget ke danau Toba ih cantiknyaa *gagal fokus
    itu si Gale-galenya khusus satu musium buat dya ya Kart? Serem yah?
    Kalo dilihat auranya hampir sama kayak aura Toraja yah?

    Like

    1. aku ramal…. Eh masudnya aku doain sesegera mungkin kak ndari menginjakkan kaki di parapat yaaa 😊 (korban dilan)

      Sbenernya sigale-gale itu ga cuma disana aja, di rumah adat yg aku datengin pun ada sigale-gale tapi ga ada pertunjukan tortornya. Dan di belakang si gale-gale itu bukan museum kak itu rumah warga di kawasan pasar tomok.

      Aku blm pernah ke toraja jadi ga bisa bandingin.. Yg jelas emang agak seram kak padahal siang apalagi dulu itu katanya rohnya bener2 dipanggil jd boneka gerak sendiri hii

      Like

  2. Aku ga bisa move on dari pulau ini meski aku malah ga semper ke parbaba. Selalu ingin balik dan balik lagi kalo liat dagangan di pasar tomok. Berasa mau dibeli semuaaaa. hahaha

    Daaan aku turun 2kg selama ngetrip di medan, padahal cuma 10 hari. Susah nya nyari makanan yang dijamin halal disanaaa. hahaa

    Like

    1. Iyaa kak.. Aku juga kalo punya rezeki lg pengen ke sana lagi dan explore sumatera bagian utara yg buanyak banget wisata alamnya yg indah.. Juga kaya akan budaya dan cerita 😍😍😍 makanannya juga

      Aduh kak kebalikannya aku ke sumatera naik berapa kilo tuh karena aku di sana sama orang asli sana jd makannya ga susah dan keseringan diajak makan seafood yg manis ituu…. Duh 😋😋😍😍

      Like

  3. Aku suka banget cerita rakyat.. makasi ya mbk kartini dah di ceritain asal usul si gale gale.. tadi aku scroll kebawah berharap keliatan muka si gale galenya.. ternyata ndak nemu.. seram gak mbk muka bonekanya? Hahah.. #salahfokus 😂😂

    Like

    1. Sama2 kak leni. Terima kasih juga yaa 😊
      Iya nih harusnya aku pajang foto si gale-gale yg full face yaa sayang wkt itu pun aku engga foto yg dia sendiri 😅
      Lumayan serem kak menurutku hehehe

      Like

  4. Boneka sigale-gale yang kakak lihat itu boneka asli yang dibuat datu atau udah duplikat ya kak?

    Btw ceritanya kereeennn… Sumatera Utara udah masuk wishlist, tapi ga tau kapan bisa kesana hehee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s