Mengajar bersama KSM-ers

IMG20180121133352

Kali ini aku akan bercerita tentang keseruan mengajar di sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang diadakakan oleh para mahasiswa yang tergabung di sebuah organisasi bernama Kelompok Studi Mahasiswa. Kelompok Studi Mahasiswa merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa bidang pendidikan tingkat Fakultas di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila. Salah satu kegiatan rutinnya adalah Pengabdian Masyarakat yang dilakukan dua kali dalam sebulan di sebuah pemukiman pemulung yang beralamat di Jalan Proklamasi RT 09/02 Kel. Abadi Jaya Kec. Sukmajaya, Kota Depok. Teringat 5 tahun silam, dengan meminta izin terlebih dahulu ke Pak Dul—bisa dibilang tokoh masyarakat yang disegani di pemukiman tersebut, dalam satu periode hampir tiap dua kali dalam sebulan aku mengunjungi tempat tersebut, baik untuk mengajar maupun untuk mengoordinasi para pengajar di sana.

Akhir-akhir ini, rasa rindu akan masa-masa itu menguap di kepala. Kesibukan-kesibukan yang dimulai dari fokus skripsi, tercemplung menjadi kaum urban yang pergi pagi sampai rumah malam membuatku tidak lagi sempat berkunjung ke tempat itu untuk sekian lamanya. Aku hanya bisa melihat aktivitas mengajar tersebut melalui media sosial. Itu pun tidak sering di-post. Keceriaan anak-anak itu tiba-tiba terngiang di telingaku. Hatiku pun tergerak untuk menghubungi Ketua yang sedang menjabat saat ini.

Aku berhasil menghubungi Ketua yang sedang menjabat saat ini, yaitu Tirta. Jujur saja, aku belum pernah bertemu dengan Tirta sebelumnya. Entah mungkin sudah, hanya saja tidak sadar. Setelah menanyakan beberapa hal mengenai Pengabdian Masyarakat kepada Tirta, aku pun berkunjung ke sana pada 10 Desember 2017. Masih sama, suasananya masih sama. Anak-anak yang begitu ceria dan sulit diatur memenuhi ruangan petak yang sederhana berukuran kurang lebih 4 x 3 meter. Namun, kakak-kakak pengajar (yang seharusnya merupakan adik-adik tingkatku) di sana sangatlah bersemangat mengajar mereka.

Tepatnya hari Minggu kemarin, 21 Januari 2018 aku kembali datang ke sana untuk mengajar bersama KSM-ers. Begitulah para anggota disebut. Jarak mengajar kembali dari sebelumnya cukup jauh, karena kakak-kakak pengajarnya sedang fokus UAS. Mendengar hal itu, membuatku menjadi bernostalgia lagi ketika masa-masa aktif berorganisasi dulu—bagaimana membagi waktu antara organisasi dengan kuliah. Cukup membuat “napas terengah-engah”  alias engap karena tanggung jawab terhadap orang tua dan organisasi haruslah balance.

IMG20180121104659
Kak Nanda dan adik-adik

Saat itu aku datang agak telat sehingga kegiatan mengajar sudah dimulai. Kakak Anis yang merupakan Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat dan Kakak Nanda yang saat ini masih menjadi anggota sedang memimpin kegiatan. Semua anak di sana tampak antusias dengan cara mereka masing-masing. Ada yang antusias mendengarkan Kak Anis dan Kak Nanda, ada yang antusias karena kehadiran kami walaupun output yang terlihat adalah canda tawa mereka, ada yang bertengkar dengan teman karena cari perhatian kami, dan ada pula yang tidak mendengarkan Kak Anis dan Kak Nanda lalu memilih untuk gelendotan dengan kakak-kakak yang lain.

IMG20180121104709

Dengan suara yang tidak kalah “keras” dari adik-adik disana, Kak Anis dan Kak Nanda memberikan instruksi pelajaran untuk hari itu yaitu membuat Puisi dengan tema sekolah. Mereka semua antusias. Mereka aktif bertanya dan menghampiri kakak-kakak pengajar untuk dibantu membuat puisi. Dua anak bernama Jessica dan Yusuf menghampiriku meminta bantuan membuat puisi. Sementara ada adik kecil yang jauh lebih muda berusia 3 tahunan memintaku menebak apa yang digambarnya. Jujur saja, gambarnya sangat abstrak, namun katanya itu ikan, katanya itu bebek. Ruwet! Pusing! Namun menyenangkan dan melatih kesabaran. Aku lebih sering tertawa dibuatnya.

IMG20180121104746
Sebuah Keceriaan

Jessica dan Yusuf selesai membuat puisi bertemakan sekolah. Jessica berhasil aku bujuk untuk membacakan karyanya di depan namun aku gagal membujuk Yusuf untuk membacakan puisi di depan teman-temannya. Aku sangat senang melihat Jessica membacakan puisinya walaupun malu-malu. Kebahagiaan tergambar di wajahnya. Seketika aku merasa begitu tersentuh dan sedih sesaat. Antusias mereka untuk belajar sangat tinggi, namun banyak kekurangan yang akrab bersama mereka. Seperti kurangnya perlengkapan tulis, buku-buku bacaan, serta perlengkapan yang dapat mendukung kreativitas mereka. Walau tidak sedikit dari mereka yang memang sudah bersekolah di Sekolah Dasar Negeri tanpa harus membayar uang operasional.

IMG20180121111103
Yusuf and Jessica
IMG20180121112541
Kak Kartini, tebak! Ini gambar apa?
IMG20180121113849
Jessica siap untuk giliran membaca puisi

Sejak saat itu sampai saat ini aku sering berpikir, bagaimana menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan terbagi secara teratur. Terakhir aku ke sana, usia mereka sangatlah beragam, dari yang berusia sekitar 3 tahun sampai 10 tahunan. Rasanya kurang tepat bila memberikan materi pelajaran yang sama ke semua anak. Usai mengajar, aku sempat mengajak kakak-kakak pengajar untuk mendiskusikan hal tersebut. Walau ada hasil yang cukup menarik untuk memperbaiki cara mengajar, namun masih banyak kendala yang perlu dipikirkan untuk diatasi, seperti masih minimnya pengetahuan kakak pengajar tentang materi apa yang tepat untuk diberikan sesuai dengan umur mereka, buku-buku bacaan yang kurang di rak buku mereka, kendala biaya untuk penyediaan alat tulis, dan yang paling sulit bagi kami adalah bagaimana mengatur mereka yang banyakan, “sulit diatur”nya sehingga sebagian adik-adik yang serius jadi ikut-ikutan tidak serius.

IMG20180121113558
salah satu kakak pengajar bersama adik ajar
IMG20180121115918
antusias sekali adik ini!

Namun satu hal yang pasti, terlepas dari mudah diatur atau sulit diaturnya mereka, serius atau kurang seriusnya mereka, mereka sangat senang dan antusias dengan kehadiran para kakak-kakak pengajar. Ruangan sederhana berukuran tidak luas itu selalu ramai disesaki mereka ketika kami datang. Kami pun menjadi sangat senang akan hal itu. Keceriaan mereka, cara mereka iri, cara mereka marah, membuat kami merasa begitu dibutuhkan dan dinanti kehadirannya..

 

19 thoughts on “Mengajar bersama KSM-ers

  1. Keren juga mahasiswa ada pengabdian masyarakatnya. Gak kalah sama dosen…
    Yang gambar ikan lucu juga. Ntar kalo ketebak gambarnya bisa dapat sepeda dong ya hehehe…

    Like

  2. Seneng ya, Kar kalo bisa berguna untuk orang lain. Semoga program mengajarnya terus berlanjut.

    Btw untuk buku bacaan kenapa ga coba tanya Kubbu, Kar. Yang 1000 buku kalo masih ada kan lumayan.

    Like

  3. Wihh kece nya yang masih kontinyu dan konsisten sama kegiatan ini ya Kart? Oke oke nice info… Di Depok lumayan pernah denger beberapa tempat juga

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s