Cirebon, Indramayu, Majalengka – Trip Meleset Bersama Sahabat

Lagi-lagi Cirebon. Ini adalah kali ke tiga aku berkunjung ke Cirebon di tahun 2017. Bila pertama aku bersama sahabatku Tere, kedua bersama Masku, dan yang ketiga ini aku bersama sahabatku yang lain, Puspa dan Amel.

Awalnya kami akan berangkat berempat bersama Tere, tiket kereta pun sudah dibeli. Namun, tiba-tiba Tere membatalkan rencana untuk trip dikarenakan  harus mempersiapkan Natal Sekolah Minggu. Sekilas cerita, kami kenal sejak tahun 2011. Kampus tempat kami menempuh sarjana lah yang mempertemukan kami. Awalnya aku hanya berteman dengan Puspa karena kami satu kelas, kemudian aku bertemu Tere di tempat kursus Bahasa Inggris, begitu juga dengan Amel sehingga walau Amel merupakan orang jauh (jurusan Farmasi), kami bisa menjadi dekat. Jadi kesimpulannya (baru paragraf ke dua udah kesimpuan), aku sebagai “jembatan” yang memperkenalkan mereka.

Baiklah, balik lagi ke Tere membatalkan rencana untuk trip. Kami berempat pun mencari pengganti Tere karena rencana awal adalah kami akan menyewa dua motor, akan sangat berantakan bila yang pergi hanya tiga orang. Setelah galau dan hampir pesimis karena tidak ada yang bisa menggantikan Tere, akhirnya Amel berhasil mendapatkan pengganti Tere yaitu Amani—teman kantornya. Semua sudah kami jadwalkan, rencanakan, membuat daftar tempat yang akan kami kunjungi.

Namun semuanya berubah tidak sesuai dengan rencana. Beginilah ceritanya… Tapi mohon maaf sebelumnya bagi para pembaca karena ini akan sangat panjang~~~~~~~~

Stasiun Gambir

Ini adalah hari Jum’at, aku dan Puspa masih bekerja dengan sangat giat. HAHA. Sebelum sampai Stasiun Gambir, banyak sekali drama. Ketika keluar gedung, jalanan sudah padat oleh motor dan mobil. Memang sudah langganan sih, enggak heran lagi. Aku dan Puspa pun langsung memesan ojek online  menuju Stasiun Gambir namun hampir 15 menit berlalu tidak ada yang kunjung pick up order-an kami. Dari ketiga aplikasi ojek online yang sangat hits itu, semuanya kami coba dan akhirnya ada juga yang mengambil order-anku sementara Puspa belum juga dapat. “Pus, gue duluan ya?” tanyaku. Puspa mengiyakan namun raut wajahnya sangat cemas. “Atau gue juga pesenin yaa, lo juga pesen. Siapa yang dapet duluan, berkabar yaa.”

Sembari dibonceng oleh Abang Driver, aku sibuk pesan ojek untuk Puspa. Benar-benar sangat sulit mendapatkan ojek online saat itu. Aku tanya Puspa pun ia belum juga mendapatkan tiga ojek online yang dipesannya. Handphoneku bergetar! Aku mendapatkan driver untuk Puspa. Sontak aku pun whatsapp Puspa untuk memberi kabar. Namun hanya checklist satu! Gawat kan, kalau Puspa berhasil mendapatkan ojek online juga. Telepon masuk, tidak lain ialah sang driver. Aku pun menyuruhnya menunggu di Jembatan Penyeberangan Orang depan gedung kantor, setelah itu aku berusaha untuk menghubungi Puspa. Aku telepon Puspa, namun panggilan sibuk. Feelingku sangat kuat kalau Puspa sudah dapat juga dan ia sedang menghubungi sang driver. Tidak lama ada pesan masuk dari Puspa mengabari kalau ia sudah mendapatkan driver dan sudah bersama sang driver. Dengan merasa sangat bersalah, aku telepon driver yang sudah aku dapat. Setelah menjelaskan dan meminta maaf, panggilan pun diakhiri dengan kalimat, “Bangsat!” dari sang driver. Aku sedih.

Baiklah, walau sedih dan terluka aku tidak mau ambil pusing. Pikiranku terfokus pada ”Besok gue senang-senang.” Tibalah aku di Stasiun Gambir. Aku bertanya pada Puspa sudah sampai mana namun ia tidak tahu jalan. Hmm, sudah kuduga~ Aku hubungi Tere sudah dimana, ia pun tidak tahu sudah dimana. Hmm, sudah kuduga~ For Your Information, Tere memang tidak jadi ikut, namun ia mau mengantar kami ke Stasiun. So sweet kan… Aku pun memutuskan untuk solat maghrib terlebih dahulu. Usai solat maghrib, Puspa mengabari kalau ia sudah tiba di Stasiun Gambir. Aku pun menjemput Puspa ke depan dan mengantarnya ke musolah. Tidak lama kemudian, Tere menelpon kalau ia sudah tiba di Stasiun Gambir. Dengan lelah lunglai, aku menjemput Tere ke depan. “Lelah gue bro, dari tadi tadi jemput lo sama Puspa enggak udah-udah.” Kami pun kembali menuju musolah dan menunggu Puspa di luar. 15 menit berlalu, dari Tere bercerita tentang dunia lainnya kerjanya, sampai percintaannya teman-teman kantornya, namun Puspa tidak kunjung selesai. Heran, aku pun menelpon Puspa. “Pus, dimana?” tanyaku. “Gue udah keluar musolah, Kar. Udah mau ke stasiun lagi.” Aku bertanya-tanya, kenapa Puspa tidak melihat kami? “Pus, gue sama Tere kan di depan dari tadi.” Kemudian dengan tanpa rasa bersalah, Puspa menjawab. “Oh, gue ga engeh.” Kemudian tertawa. “Oke Pus, lo tunggu situ jangan bergerak!”

Lapar melanda, semua tempat makan di Stasiun penuh tidak ada lagi tempat untuk kami. Benar-benar jam lapar, pikir kami. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di luar Stasiun. Namun sejauh mata memandang, tidak ada apa-apa. Kami pun bertanya pada security, dan diarahkan untuk ke gang kecil samping Galeri Nasional. Kami pun makan nasi goreng di sana. Tidak terasa sudah satu jam kami duduk, makan sambil cekikikan, setelah itu kami kembali ke Stasiun. Amel dan Amani belum juga tiba mentang-mentang kosan mereka dekat stasiun. Tere mulai gelisah, karena Tere harus naik commuterline. Aku pun menyarankan agar Tere tidak perlu menunggu Amel. KTP Tere sudah di tangan, tinggal ketar ketir menanti penampakan Amani. Dan…

IMG20171117204858
berpisah dengan Tere, muka kucel semua

Mereka sangat berbeda, bagaikan daun dengan batang. Aku sedih. Semoga ketika proses verifikasi tidak ada masalah. Aku menelpon Tere, “Bro, handphone lo selalu dipegang ya! Gue takut si Amani ga boleh masuk karena muka kalian sangat berbeda.” Tere tertawa di balik panggilan. “Gimana emang, bro?” tanyanya. “Jauh pokoknya bro. Sedih deh kalo diceritain mah.” Tere semakin tercekikikan.. “Cakep ya, bro?” “Gue takut lo sedih kalo gue jujur.” Kami pun tertawa terbahak-bahak. “Yauda bro, siap siaga ya, handphonenya.” Ternyata proses verifikasi berjalan lancar tanpa kendala. Buru-buru aku menghubungi Tere. “Aman, bro.” “Lo udah ngatain gue, ternyata aman. Sue!”

Kami meluncur menuju Cirebon dengan menaiki Cirebon Express. Ya, benar express namun getaran dari gesekan relnya sangat berasa membuat kami mual. Namun rasa mual itu hanya berlangsung sebentar karena aku tertidur dan tepat pukul 01:00, Tere menelponku. “Bro, udah jam 1 bangun ntar kelewatan lo.” “Ah, iya iya. Lo belum tidur?” tanyaku. “Engga, gue lagi nonton drama sengaja buat bangunin elu.” Sungguh sahabat yang sangat manis, walau wajah maupun senyumnya tiada manisnya. “Oke bro, makasih ya bro Cirebon stasiun terakhir kok.” Tere pun kesal.

Indramayu

Kami tiba di Stasiun Cirebon sekitar pukul 01:00 dini hari. Pagi itu sangat dingin, rasa kantuk dan pegal kuat sekali menyerang, ditambah sebelumnya aku belum beristirahat sedikitpun. Rencana awal adalah kami menuju penginapan dekat stasiun, namun kali ini berbeda. Dulunya—pernah bekerja mengurus rumah tangga keluarganya Amel dan pernah menjadi supir pribadi keluarganya Amel. Amel lebih senang memanggil mereka Mas dan Mbak. Ya, kami dijemput suami Mbaknya Amel. Pikirku hanya dijemput oleh satu orang ternyata satu keluarga dibawa. Wkwkwk. Istrinya dan kedua anaknya ikut menjemput kami. Aku duduk di paling belakang bersama anak sulung Mbaknya Amel sementara Amel, Puspa, dan Amani duduk di tengah. Jalanan di depan Stasiun masih terasa akrab oleh mataku. Kami bertemu dengan jalan raya, setelah itu aku sudah tidak mengenali jalan. Aku pasrah mau dibawa ke manapun. Yang jelas, jalanan sangat gelap sepi—hampir hanya kami atau memang hanya kami di jalan itu. Masnya Amel menyetir dengan sangat cepat aku yang tadinya berniat tidur, sampai was-was. Benar saja, jalanan di depan agak bergelombang. Aku yang duduk tepat di ban belakang pun terjuntai ke atas sehingga kepalaku terantuk atap mobil. Seketika penglihatanku gelap dan kepalaku kesemutan. Namun aku hanya diam sampai semuanya kembali normal. “Kejedot ya, Mbak?” Tanya anak sulung Mbaknya Amel. “Iya dek..” jawabku sambil meringis.

Perjalanan menuju rumah Mbaknya Amel kira-kira setengah jam. Cukup jauh ya. Pikirku. Setelah tiba di sekitar rumah Mbaknya Amel, kami disambut oleh sebuah pentas di panggung. Bahasanya menggunakan Bahasa Jawa halus, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Namun aku menangkap satu suara yaitu Sunan Gunung Jati. Penasaran, aku pun bertanya pada anak sulung Mbaknya Amel. “Itu apa?” “Disini kalau ada yang menikah, hiburannya itu. Cerita tentang sejarah.” Lalu setelah menaruh Ransel di kamar yang akan kami tiduri selama dua hari ke depan, aku dan Amani menonton pertunjukan. “Aku enggak ngerti, Kar.” ujar Amani. Aku mengangguk. “Sama. Yauda yuk, kita masuk tidur.”

Pagi sudah tiba. Puspa, Amel, dan Amani masih pulas. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menuntaskan panggilan alam sebelum mengantre. Usai menuntaskan hal tersebut, sekaligus mandi dan solat. Satu per satu mereka aku bangunin, tampaknya mereka masih trainlag haha. “Ayo, kita udah sampe sini jangan siang-siang bangunnya! Biar bisa eksplor banyak.” seruku. Satu per satu dari mereka mandi bergantian.

Saat kami sedang sibuk dandan, tiba-tiba Mbaknya Amel datang ke kamar kami dan menawari sate telor puyuh. Amani yang ternyata penggila telor puyuh paling semangat menjawab. Aku mengangguk senang, sementara Puspa mengangguk kalem dan Amel mengangguk sedih. “Aduh gue ga bisa banyak-banyak makannya, ntar kolesterol gue kambuh.” keluhnya. Tawaran sate telor puyuh pun teriyakan oleh kami berempat dan Mbaknya Amel mengajak kami untuk pergi pasar namun hanya aku dan Amel yang pergi. Pikirku jauh, ternyata di depan rumah hahaha. Aku dan Amel stock kerupuk pedas penuh micin lezat.

IMG20171118072534
di Pasar

Sate telor puyuh terhidang, Amani beringas sekali makannya. Pikirku andai Tere jadi ikut, pasti akan sangat senang mengingat Tere pun tidak kalah hobi makan sate telor puyuh. Dalam sekejap, aku sudah makan lebih dari 5 tusuk. Kalau tidak mengingat nasi bebek, pecel kangkung yang akan dihidang oleh Mbaknya Amel, rasanya mau aku habiskan saja telor puyuh itu.

IMG20171118092022
nasi bebek dan pecel kangkung khas Indramayu, enak banget T_T

Terasering Panyaweuyan

Destinasi pertama seperti rencana awal yaitu Majalengka. Aku perhatikan jalanan sangat berbeda dari sebelumnya. Aku benar-benar tidak mengenal jalanan yang sedang kami lewati. Aku tunggu-tunggu Yogya Kartini yang berada di Jl Kartini pun tidak kunjung dilewati. Ah sudahlah, mungkin tidak lewat jalan sana. Pikirku. Lama sekali untuk tiba di Lembah Panyaweuyan hingga bekal sate telor puyuh pun tandas di perjalanan. Berbungkus-bungkus kerupuk pedas penuh micin habis oleh kami berempat. Cukup lama kami tiba di Lembah Panyaweuyan, Majalengka. Ketika tiba, kami takjub oleh terasering yang begitu rapih dan langit yang sangat cerah. Padahal awalnya kami kira akan hujan, namun sangat cerah cenderung panas. Ekspektasi kami bisa jalan-jalan di teraseringnya namun ternyata sepertinya tidak boleh diinjak-injak. Hehe. Bukan pemikiran yang baik!

IMG20171118130047
Selfie Perdana
WhatsApp Image 2018-01-18 at 13.21.27
Jumping! Jumping!

Masih di wilayah terasering, mobil terus melaju dan kami berhenti di hutan pinus. Emang dasar cewek, ga boleh lihat spot foto bagus langsung take foto berkali-kali dengan bermacam gaya baik sendiri maupun bareng-bareng. Satu jam lebih kami berfoto di hutan pinus, Mas dan Mbaknya Amel yang tadinya menemani kami pun akhirnya memilih untuk ke mobil duluan sementara kami masih belum puas dengan hasil jepretan kami. Sadar kalau hari semakin sore dan baru satu tempat yang kami kunjungi, kami pun segera bergegas pergi dari hutan pinus. “Udah foto-fotonya?” Tanya Masnya Amel. Kami hanya tertawa.

WhatsApp Image 2018-01-18 at 13.21.28
Anak zaman jigeum foto kekinian
WhatsApp Image 2018-01-18 at 13.21.27 (1)
Tampak dari bawah

Kebun Teh Lemahsugih Cipasung

Jalan yang berkelok, sempit, dan curam membuat kami berempat ketakutan. Tidak jarang kami berteriak-teriak tiap kali ban mobil seperti akan selip ke jurang. Tidak ada pengaman di pinggir jalan menanjak nan berkelok itu. Hingga pada tikungan menanjak yang teramat tajam, dari arah berlawanan ada seorang kakek yang membawa motor memboncengi istrinya melaju dengan cepat. Kaget dan tidak siap, moncong mobil pun mengenai motor dan si kakek terjatuh. Seketika jantung kami seakan berhenti berdegup. Tidak ada satu pun dari kami yang keluar dari mobil karena tidak ada space yang tersedia untuk membuka pintu mobil. Si kakek tampak meringis dan ketakutan, karena disini yang salah memang posisi si kakek. Namun istrinya menunjuk-nunjuk kaki dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Wajahnya terlihat marah. Bukan bermaksud menggunakan uang untuk menyelesaikan masalah, namun kami berinisiatif untuk memberi uang kepada mereka untuk biaya pengobatan apabila ada yang terluka. Mereka pun langsung merasa puas setelah itu.

IMG20171118143307
jalan sempit berkelok

Kami yang tadinya ceria menjadi bungkam selama beberapa saat. Sangat kaku dan terasa aneh. Aku pun membuka percakapan. “Mel, masih jauh ga?” tanyaku pada Amel yang kebetulan sedang membuka Waze. “Masih jauh sih, Kar.” Jawabnya. Kami terus mencari Kebun The Lemahsugih Cipasung mengandalkan waze dan bertanya pada warga setempat. Namun, tiap berganti orang yang ditanyakan semuanya menunjukkan arah yang berbeda. Langit mulai gelap, jam sudah mendekati pukul 6. Kanan kiri hanyalah hutan dan jurang. Udara pun semakin dingin dan berkabut, kami berada entah dimana. “Kita balik aja yuk, besok lanjut lagi.” Ujarku karena mulai merasa takut.

“Iya.” Jawab Amel disusul persetujuan yang lainnya.

Masnya Amel pun mencari jalan yang agak lebar agar bisa memutar arah, namun tidak kunjung ketemu sehingga kami terus melaju ke depan. Penerangan benar-benar tidak ada. Bahkan motor warga setempat pun tidak ada yang lewat. Aku merasa mobil berhenti, sepertinya kami sudah menemukan jalan yang cukup lebar. Aku melempar pandangan ke luar dan sedikit memicingkan mata karena penglihatan sudah tidak begitu jelas dikarenakan sudah gelap. Aku lihat di belakang kami adalah jurang. “Mas! Hati-hati jangan terlalu ke belakang!” semua orang di dalam mobil pun menjadi panik tidak terkecuali Mbaknya Amel. Ya Allah, rasanya jauh lebih mengerikan dibandingkan naik tornado di Dufan. Aku tidak bisa bernapas lega sebelum mobil benar-benar berhasil putar arah. Tanpa sadar aku mengejan, padahal tidak ada yang berubah walaupun aku mengejan. Haha, reflek. Dan, mobil berhasil berputar arah. “Alhamdulillah.” Jawab kami semua. “Terima kasih Tuhan..” aku mendengar Amel berucap demikian.

Perjalanan pulang terasa sangat lama karena kami tersasar cukup jauh. Di tengah jalan menuju Cirebon, kami mampir makan bakso di sebuah tempat seperti Pujasera. Entah karena alasan apa, si abang penjual bakso bertanya. “Datang dari mana, Mba?” kalau dipikir-pikir, ketika aku berada di Kisaran, Tebing Tinggi, Pekanbaru, Langsa, dan Subang pun pasti saja ada yang bertanya, “Datang dari mana, Mba?” memangnya kelihatan ya, kalau bukan warga sekitar? Hehe. Masih misteri.

Sesampainya di rumah Mbaknya Amel, kami langsung bersih-bersih kemudian tidur. Namun ada kejadian yang cukup menyeramkan buat kami. Usai solat isya, Amani bertanya pada kami. “Puspa tadi lewat ya?” tanyanya. Dikarenakan lampu ruangan sudah dipadamkan semua, membuat rumah menjadi gelap. “Engga, dari tadi aku di sini.” Memang benar, tidak ada yang lewat. Kami bertiga di kamar sejak tadi.

Gua Sunyaragi

Pagi datang, nasi goreng sudah terhidang ditambah sate telor puyuh jilid 2 yang kembali menggoyang lidah kami sudah disiapkan. Ini adalah trip paling memuaskan yang pernah aku rasakan dalam hal makan yaa!! Hahaha! Setelah kenyang, kami bergegas ke Gua Sunyaragi dengan bekal Nasi Arab yang sudah disiapkan oleh Mbaknya Amel. Alhamdulillah, nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan? Euleuh euleuh… Di Gua Sunyaragi kami menyewa jasa tour guide dan kami diarahkan oleh Bapak Ahmad. Beliau menjelaskan semuanya tentang sejarah Gua Sunyaragi. Sekitar 30 menit kami diajak tur oleh Bapak Ahmad, kemudian kami tidak lupa mengabdikan diri kami di kamera handphone masing-masing.

WhatsApp Image 2018-01-18 at 13.17.40
Telor Puyuh (maning)

Hujan turun dengan lebat. Usai solat zuhur, kami makan Nasi Arab sembari menunggu hujan reda. Nasi Arab itu, adalah beras yang dimasak menggunakan kaldu ayam. Dimakan dengan lalapan cabai rebus. Yang sangat aneh, cabainya tidak terasa pedas sama sekali. Aku heran dan takjub! Aku tanya kenapa, Mbaknya Amel hanya tersenyum. Ah sepertinya itu adalah rahasia dapur. Perutku terasa sangat penuh, hatiku sangat senang karena kenyang dan aku sampai lupa foto untuk kenang-kenangan saking nikmatnya. Kemudian kami bingung mau ke mana lagi. Awalnya kami ingin pergi ke Kuningan, namun khawatir waktu kepulangan tidak terkejar sehingga Masnya Amel mengusulkan untuk ke Batik Trusmi. Namun rasanya kurang “berpetualang” kalau hanya belanja. Dengan sigap, aku googling mencari tempat wisata yang jauh lebih “menantang” walau akhirnya tidak menantang sih hahaha.

IMG20171119113152
Bapak Ahmad
WhatsApp Image 2018-01-18 at 13.21.28 (1)
Rumana & Charlie’s Angels

Bukit Plangon

Ada apa di Bukit Plangon? Ada monyet! Hahaha! Benar! Di sana banyak sekali monyet. Konon menurut Mas yang memandu kami, monyet-monyet itu adalah peliharaan Sunan Gunung Jati. Disana kami memberi makan monyet. Tempatnya cukup mistis karena kami memasuki bukit yang penuh akan pohon-pohon tinggi. Mungkin karena habis hujan, suasananya pun menjadi sangat lembab, dingin, dan tidak nyaman. Ah, ini karena aku saja yang parnoan sepertinya.

WhatsApp Image 2018-01-18 at 13.21.27 (2)
Jembatan di Bukit Plangon

Kami berjalan memutar sembari sesekali memberi makan monyet dengan kacang dan pisang yang sudah kami beli sebelumnya. Kata Mas yang memandu kami sih, monyetnya enggak nyakar. Tapi pas aku kasih makan, ada satu monyet yang nyakar tanganku. Untungnya aku memakai jaket yang cukup tebal sehingga tanganku tidak terluka. Fiuh.

IMG20171119151507
Monyet di Bukit Plangon

Puas bermain dengan monyet dan rasanya sudah sangat lelah, kami pun diantar langsung ke Stasiun Cirebon Kejaksan. Liburan ini terasa sangat singkat, dan saat itu aku berpikir ternyata selama ini aku tidur di Indramayu, bukan di Cirebon. Pantas saja jalanannya tampak asing. Hehe.

Mohon maaf para pembaca bilamana tulisann ini sangat tidak “enak” untuk dibaca. Sedanya pisan euy~

 

72 thoughts on “Cirebon, Indramayu, Majalengka – Trip Meleset Bersama Sahabat

  1. Seru banget tripnya… Yang paling bikin ngiler nasi bebek & pecel kangkungnya… Keyaknya yummy banget. Btw itu yg lagi loncat ada yg perutnya kelihatan #salfok

    Like

  2. Wah seru banget kak tripnya, duh aku jadi pengen ke Gua Sunyaragi. Btw sedikit saran kak, tulisannya lebih bagus lagi kalo diselipin info biayanya kayak tiket masuk, sewa tour guide dll biar semakin informatif 🙂

    Like

      1. kalau rutenya cirebon aja, itu deket2 kak. cirebon banyak keraton, ada 3 kalo ga salah (yg aku tau lbh tepatnya). dari keraton ke keraton itu jaraknya deket2, gua sunyaragi, bukit plangon, dan kuliner2 seru cirebon deket2. tp kalo mau ke kuningan ya lumayan jauh sih kak. bisa satu jam naik motor (kondisi jalan lancar). tp aku pernah berdua sama temenku, temenku yg nyetir aku jobdes yg lain ia ga kecapean krn udh senang duluan hihi (jadi panjang nih blsan komenku) 😀

        Like

      1. deket kak dari kota. wkt itu aku cuma 15 menit aja dari kota, itu pun krn habis hujan jadi agak macet dan naik mobil. kalo naik motor mungkin bisa lebih ringkas

        Like

  3. Kayaknya ini tempat2 yang gak hiasa dikunjungin ya Kart? Referensi baru..

    Aku penasaran sama Teraseringnya, katanya bagus banget loh..

    Like

  4. Waktu baca part sate telur puyuh, nasi bebek, sama pecel kangkung aku ngileeer 😂😂 menegangkan sekali ya kak apalagi yang belok deket2 jurang.. seru banget trip nya ..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s