Trip Hemat ke Purwokerto

Kalau bisa liburan setiap hari, pastinya aku bakalan memilih untuk liburan setiap hari. Tapi liburan butuh uang kan? Satu-satunya hal yang bisa aku lakuin saat ini untuk mendapatkan uang ya bekerja he he he. Tapi karena setiap lima hari dalam seminggu bekerja, mumet-mumet pun datang. Kebetulan partner liburanku pun sedang mumet juga. Jadi, kami memutuskan untuk liburan bersama.

Purwokerto, menjadi destinasi kami melepas mumet. Sebenarnya rencana ke Purwokerto sudah ada sejak Desember tahun lalu, namun batal dan baru kesampaian di Agustus 2017. Dan rencana ke Purwokerto di tahun ini pun nyaris batal. Namun karena sudah berjodoh dengan waktunya, kami pun berangkat.

Kami berangkat Jum’at malam pukul 21.00 dari Stasiun Pasar Senen dengan tujuan akhir Stasiun Purwokerto menggunakan kereta Serayu dengan harga tiket per orang Rp 70.750,- kelas Ekonomi. Perjalanan kami tempuh selama 11 jam. Kebayang kan, gimana “panas”nya punggung kami dengan kondisi kursi yang sangat tegak? Petugas tiket pun salut kepada kami pada saat kami memverifikasi tiket kami. Namun jiwa kami jiwa “hemat”, low budget tidak apa yang penting aman dan selamat sampai tujuan walau harus pegal punggung.

Seharusnya pemandangan selama perjalanan akan sangat mengasyikkan. Berhubung kami berangkat pada malam hari, ketika melemparkan pandangan ke luar jendela namun hanya gelap saja yang kami dapat. Kami pun tetap menikmati perjalanan itu dengan mengobrol, kenalan dengan penumpang lain, cemal-cemil snack yang sudah kami beli di Stasiun Pasar Senen, dan tentu saja tidur. Aku sendiri tidak bisa tidur sepulas partner liburanku, sepertinya karena hari itu aku izin cuti sehingga bisa istirahat dan tidur siang dulu di rumah.

Setelah melewati Stasiun Banjar, langit sudah mulai terang. Kami pun dapat melihat pemandangan di luar kereta. Hamparan sawah yang hijau memanjakan mata kami ditambah udara pagi yang sangat sejuk setelah hujan. Terdapat rintik sisa hujan di jendela kereta membuat jendela sedikit berembun. Aku pindah kursi setelah penumpang lain turun di Stasiun sebelumnya, supaya partner liburanku bisa meluruskan kakinya yang panjang itu sembari bersandar.

IMG20170819081803

Perjalanan saat pemberangkatan

Jam sudah menunjukkan pukul 08:00 WIB. Hari sudah berganti menjadi hari Sabtu. Sesuai jadwal, seharusnya kami sudah sampai di Stasiun Purwokerto. Namun Serayu yang kami tumpangi ini agak ngaret, ia berhenti lama di Stasiun Kroya. Sebenarnya kami sudah tidak sabar ingin cepat-cepat tiba, namun apa boleh buat kami hanya bisa menunggu sembari menebak-nebak bagaimana indahnya Lokawisata Baturraden sebagai destinasi utama yang akan kami kunjungi.

Kereta mulai bergerak, jantungku berdebar-debar. Memang agak lebay sih, tapi saking excited-nya aku sampai tidak bisa mengontrol detak jantungku. Namun kami sedikit mendapat kejutan kecil. Kereta yang kami tumpangi berjalan mundur. Penumpang lain pun bertanya-tanya, namun tidak ada petugas yang dapat kami tanyai untuk menghilangkan rasa ketar-ketir kami. “Jangan-jangan kita balik ke Jakarta. 11 jam yang sia-sia.” Ujar partner liburanku mencairkan ketegangan. Berhubung aku sudah hapal lintas perkereta-apian (maklum setiap hari naik Kereta Rangkaian Listrik), aku sudah menebak kalau kereta mundur karena ingin ganti rel. Dan jawaban dari petugas yang akhirnya lewat pun sesuai dengan dugaanku.

Tibalah kami di Stasiun Purwokerto. Aku langsung menghubungi (Boss Sewa Motor) memberitahukan bahwa kami sudah tiba di Stasiun Purwokerto. Seperti trip-trip sebelumnya, aku lebih suka menyewa motor karena dengan adanya kendaraan, akan lebih efisien tentunya. Harga sewa per 24 jam adalah Rp 80.000,- dengan harga extend Rp 5.000,- per jam lengkap dengan helm dan jas hujan. Setelah serah terima kendaraan dengan KTP sebagai jaminannya, kami pun siap menuju tempat tujuan pertama kami, Lokawisata Baturraden.

IMG20170819085231

Narsis dulu setibanya di Stasiun Purwokerto

Dengan menggunakan google maps, kami pun meluncur. Waktu tempuh dari Stasiun Purwokerto ke Baturraden kurang lebih hanya 10 menit. Jalan kami tiada hambatan, sudah beraspal tiada lubang dengan pepohonan di sekeliling dan hijaunya hamparan sawah. Suhu mulai turun setibanya kami di Baturraden. Agak aneh sebenarnya, sampai saat ini aku masih memikirkannya. Kenapa suhu di Baturraden sangat berbeda dengan suhu di Kota? Padahal jalanan kami tidak menanjak. Ada yang bisa menjawab?

IMG20170819091809

Perjalanan dari Stasiun menuju Baturraden

IMG20170819092054

Pemandangan di Baturraden

IMG20170819092200

Narsis (belum mandi)

Lokawisata Baturraden

Bus-bus pariwisata, pedagang cinderamata, penjaja makanan, pengunjung yang berfoto-foto di icon baturraden menjadi pemandangan pertama ketika menginjakkan kaki di tanah Baturraden. Sebelum memasuki Lokawisata Baturraden, kami sarapan terlebih dahulu. Nasi rames menjadi pilihan kami. Dengan mengeluarkan kocek sebesar Rp 18.000,- dengan lauk ayam dan air mineral dan Rp 16.000,- dengan  lauk telur dan air mineral dapat mengganjal perut keroncongan kami.

Sebelum membeli tiket, kami berfoto-foto ria di depan icon Lokawisata Baturraden. Harga tiket bisa dibilang murah kami hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 28.000,- untuk kami berdua. Masuk ke area Lokawisata, kami disuguhi view yang menakjubkan. Dari teater pesawat, patung baturraden, dan jembatan yang di pikiranku instagramable banget. Langsung saja aku mengabadikan momen yang sayang bila dilewatkan.

IMG20170819101011

Icon Lokawisata Baturraden

Sungai mengalir dengan tenang menabrak bebatuan kali yang besar-besar, semakin turun semakin deras. Kami menyelupkan kaki ke dalam sungai. Airnya sangat segar dan bening. Puas foto-foto dan menikmati sejuknya air, kami naik ke atas dan foto di patung Baturraden. Konon katanya, kenapa dinamakan Baturraden itu ada artinya lho.. Batur adalah pembantu, Raden adalah majikan. Jadi, menurut legenda pada ratusan tahun silam konon terdapat sebuah Kadipaten Kutaliman dimana adipatinya mempunyai beberapa anak perempuan dan seorang ‘gamel’ (pembantu yang menjaga kuda). Salah satu anak perempuannya jatuh cinta dengan gamel tersebut, namun cinta mereka tidak disetujui oleh sang Ayah. Begitulah singkat cerita asal usul penamaan Baturraden.

 

IMG20170819102624_1

Di Sungai

IMG20170819103957_2

Main Air

IMG20170819104745

Di depan patung Baturraden

Kami naik lagi ke atas melalui tangga buatan yang tentunya sangat indah dipandang dan instagramable. Dari atas sana, view lokawisata terlihat sangat jelas. Semriwing angin pun menampar pelan wajah kami.

IMG20170819105627

Tangga

Puas menikmati keindahan, kami menyusuri spot lain. Kami melihat ada terapi ikan, namun kami tidak tertarik untuk mencobanya. Kami lewati saja lalu kami berjalan menuju jembatan lainnya. Dari sana, kami bisa melihat air terjun yang tidak terlalu tinggi. Sungguh padanan yang begitu memanjakan mata.

IMG20170819114354

Favorite

Karena sudah cukup lelah, kami memutuskan untuk berhenti keliling dan mencari spot yang enak untuk duduk menikmati pemandangan dan mengobrol. Tidak terasa satu jam kami mengobrol ngalor ngidul sembari merasa sangat bersyukur dengan apa yang kami rasa saat itu. Kami pun bergegas ke tempat menginap yang sudah kami pesan melalui aplikasi Traveloka.

IMG20170819121203

Asik nih ngobrol disini

New Aprilia Hotel

Lokasinya berada di kawasan Lokawisata Baturraden. Harga 1 malam untuk per kamarnya tergolong murah yaitu Rp 126.000,- . Kebetulan di depan kamarku adalah sungai sehingga ketika aku tidur, aliran sungai terdengar memanjakan telinga. Fasilitas yang didapat yaitu TV, handuk, sabun, dan air hangat.

IMG20170820062330

View depan kamar

Kuliner Malam di Purwokerto

Kami pergi ke arah kota untuk mencari makan malam karena di Baturraden kami tidak menjumpai tempat makan yang pas dengan keinginan kami. Hampir satu jam kami keliling mencari-cari tempat makan namun kami tidak kunjung menemukan yang tepat. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba sop iga namun rasanya biasa saja. Namun semuanya terobati oleh Serabi Mix Max sebagai makanan penutupnya. Interiornya anak muda banget dengan lagu-lagu kekinian juga diputar menemani muda-mudi yang datang berkunjung. Harga Serabinya termasuk murah Rp 5.500,- dan rasanya tidak mengecewakan.

IMG20170819181341

Konsep ruangan Serabi Mixmax

IMG20170819182911

Serabi Mixmax

Olahraga Pagi di Baturraden

“Olahraga yuk!” ajakku pada partner liburanku.

“Boleh..” jawabnya.

Tanpa ba bi bu kami pun langsung berjalan kaki menikmati Baturraden pada pagi hari. Dingin tapi kami keringetan. Kami berjalan menuju kawasa Kebun Raya Baturraden dan di tengah perjalanan kami melihat pemandangan yang sangat indah di tengah-tengah pemukiman warga. Kabut tipis mengelilingi pegunungan jauh disana. Entah gunung apa itu. Jalanan agak menanjak namun kami tetap semangat.

IMG20170820072259

View saat jalan pagi

Kebun Raya Baturraden

Masih sangat baru, dan sepertinya masih proses pengelolaan sehingga tidak sekece Lokawisata Baturraden. Harga tiket per orang Rp 13.000,-. Jarak dari Lokawisata ke Kebun Raya kurang lebih 2 km saja. Karena bingung tidak ada spot yang menarik, akhirnya kami hanya mengobrol di sebuah pendopo sembari menikmati semilir angin. Sebelum meninggalkan Kebun Raya, kami sedikit berkeliling dan mencari spot foto yang bagus.

 

IMG20170820121751

Kebun Raya Baturraden

IMG20170820135927

Pohon Pinus

Soto Ayam Jalan Bank Haji Loso

Tepatnya berada di Jl. R.A. Wiryaatmaja No. 14-15 Purwokerto. Kenapa dinamakan Jalan Bank? Spekulasiku karena lokasinya sangat dekat dengan Museum Bank BRI. Soto ayam ini berbeda dengan soto ayam yang pernah kucoba sebelumnya. Pada dasarnya konsepnya sama, kuah bening dengan suiran ayam, bihun komposisi utamanya. Hanya saja, kuahnya ditaburi kacang tumbuk kasar dan sambalnya sambal kacang seperti bumbu pecel hanya saja tidak terlalu kental dan ada lontong dicampur di dalamnya. Penyajiannya pun tidak panas seperti soto-soto yang pernah kuicip sebelumnya melainkan hangat kuku. Awalnya aku sudah underestimate, “Sepertinya tidak enak.” Pikirku. Sebelum aku cicipi, aku bertanya pada partner liburanku. “Gimana? Enak?”

“Enak.” Jawabnya semangat tanpa menoleh sembari terus mengunyah.

Setelah aku icip, ternyata memang enak. Aku memakannya sampai habis tidak bersisa ditambah seruputan es jeruk yang sangat segar.

IMG20170820153356

Enter a caption

IMG20170820144431

Soto

IMG20170820143534

Menyempatkan diri mampir ke depan Museum BRI

Pusat oleh-oleh Eco khas Purwokerto

Tepatnya berada di Sawangan. Tidak jauh dari Soto Ayam Jalan Bank Haji Loso. Kami mendapat informasi lokasi dari seorang kakek yang menjaga motor kami pada saat makan soto a.k.a tukang parkir. Si Kakek menjelaskan secara detil arah menuju pusat oleh-oleh. Sungguh informatif dan membuat kami senang. Yang membuat kami lebih kagum dengan si Kakek, ketika aku memberikan selembar dua ribu rupiah, dengan cepat si Kakek memberi kembalian uang logam seribu rupiah. Entah bagaimana caranya ia bisa begitu cepat menyelipkan logaman itu ke tangan kananku. Di Pusat oleh-oleh Eco, lengkap dari makanan kering yang bisa dibawa pulang sampai mendoan yang sudah digoreng. Mendoan untuk digoreng di rumah alias dibawa pulang juga ada! Lengkap deh.

Alun-alun

Alun-alun memang menjadi sebuah tempat dimana banyak muda mudi, keluarga, para penjual berkumpul. Pertama kali yang membuatku salut dengan tempat yang dikelilingi pohon beringin ini, yaitu tempat sampah di setiap titik. Jadi, malu dong buat para pengunjung yang masih buang sampah sembarangan.

2 hari yang sangat seru akhirnya harus kami akhiri walau harus ada insiden keram perut karena datang bulan yang kecepetan, namun Alhamdulillah partner liburanku merawatku dengan baik. Kami menyerahkan kembali motor sewaan dan menunggu kereta di Stasiun. Perjalanan penuh makna, membuat kami bersyukur bahwasanya kami telah diberikan napas untuk bisa menikmati keindahan Sang Pencipta, sebuah kejujuran dan ketulusan yang diajarkan sang Kakek, saling tolong menolong antar sesama, dan menyampingkan ego yang terkadang ingin didahului dan dituruti. Percayalah, dengan siapapun kamu berkelana, kemanapun kamu berkelana, bila kamu melakukannya bersama orang lain itu jauh lebih berat ketimbang berpergian seorang diri karena ada lebih dari satu pemikiran, dan keinginan.

Well, trip ke Purwokerto yang kami duga lebih dari satu juta, namun realisasinya tidak sebanyak itu.

IMG20170820164513

Aktivitas di alun-alun

IMG20170820165230

Disediakan tempat sampah, jadi kalau masih buang sampah sembarangan malu ya?

WhatsApp Image 2017-08-29 at 09.48.28

Alun-alun Purwokerto

Rincian:

Tiket Kereta PP: Rp 177.000,- per orang

Rental Motor: Rp 62.500,- per orang (harga normal 80.000 + extend 45.000) sharecost

Bensin: Rp 7.500 per orang (harga normal 15.000) sharecost

Tiket Lokawisata: Rp 14.000,- per orang

Tiket Kebun Raya: Rp 13.000,- per orang

Hotel: Rp 126.000,- per orang

Makan: Rp 97.000,- per orang

Total Pengeluaran: Rp 497.000 per orang di luar oleh-oleh.

Bagaimana trip hemat ala kami? Lumayan kan 🙂

51 thoughts on “Trip Hemat ke Purwokerto

  1. zen says:

    Tulisanya mba kartini selalu enak dibaca, pernah sekali mudik lewat purwokerto… Jadi bisa ngerasain pegelnya naik kreta ekononi 11 jam haha….

    Purwokerto salah satu kota yang selalu kurindukan, pernah punya cita cita tinggal di sana….

    Like

  2. Zaoza says:

    Baturaden itu di kaki gunung slamet, Kar. ada jalur pendakian dari baturaden juga. sebnernya bisa hiking di baturaden ke pancuran 7 dan di sana bisa berendem air hangat yg berkhasiat hohoho. airnya mengandung belerang soalnya. jalur hikingnya ngelewatin camping ground juga. deretan pohonnya juga bagus di situ.

    emang nggak terlalu menanjak tapi itu masuk dataran tinggi sebenernya, makanya sejuk. alun-alunnya kece kalo malem, ada air mancurnya. hohohoho.

    ketika anak lokal berkomentar ya gini nih 😀

    Like

  3. Ning says:

    Naik kereta 11 jam emang sesuatu banget, aku naik kereta ekonomi 9 jam 30 menit aja punggung rasanya mau copot, kaki pegel, dan yang paling gak enak, di depan berhadapan dengan orang yg tak dikenal. so, kayaknya bakal jadi pengalaman terakhir naik kereta ekonomi, haha

    Like

    • kartinismayanti says:

      Iya, katanya sama kayak ke Jatim ya, Mas. Itu krn lewat jalur apa gitu pokoknya lewatin Ciamis jdnya selama itu. Pas pulang, lewat Cirebon hanya 5 jam.

      Nanti kalo ada waktu lagi coba main lebih jauh lagi 😀

      Like

  4. lenifey says:

    Sempet olahraga loh walaupun lagi ngetrip.. hihihi.. saya juga kalo ngetrip aja mau naik ekonomi.. kalo pulang kampung ke surabaya sekarang sudah males naik kereta gasabaran lama dijalan. 😆😆

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s