Teror Badut Penari Melalui Rasa Takut

it-teaser-poster

Setelah mendapatkan materi tentang membuat resensi film yang baik pada acara Kopdar Klub Buku dan Bloger Backpacker Jakarta (lihat link), aku akan mencoba membuat resensi film yang baru saja aku tonton bersama dua teman kantorku semalam.

IT – Film horror garapan New Line dan Warner Bross yang disutradari oleh Andres Muschietti adaptasi dari novel Stephen King yang rilis pada Jum’at, 8 September 2017 berhasil membuat teman sebelahku berteriak histeris pada banyak adegan. Seram banget, dong?

Terlihat punggung seorang anak laki-laki yang memakai jas hujan berwarna kuning dan sepatu bootsnya menghadap sebuah Badut dari kegelapan yang sedang memegang balon merah, seolah-olah ingin memberikan balon tersebut kepada anak laki-laki itu. Tulisan “You’ll float too.” di atas tulisan IT berwarna sama dengan balon yang dipegang sang badut terlihat sangat creepy. Tidak ada penampakan menyeramkan dalam poster IT, namun perasaan mencekam dan mengganggu menyelimuti pada saat pertama kali melihat poster film tersebut.

Berawal dari derasnya hujan yang mengguyur Kota Derry tahun 1988, menampilkan dua orang kakak beradik yang sedang bersama di dalam kamar. Sang adik keluar dari rumah untuk bermain perahu di aliran hujan yang membasahi jalan. Disitulah awal mula teror si Badut Penari muncul. Setahun kemudian, teror kembali muncul, banyak anak hilang. Sekelompok anak sekolah yang dijuluki “The Loser’s Club” yang selalu diancam oleh sekelompok anak brandal bersatu untuk membunuh si Badut Penari.

Billy yang diperani oleh Jaeden Lieberher sangat mendalami perannya sebagai seorang kakak yang kehilangan adiknya Georgie yang diperankan oleh Jackson Robert Scott. Walaupun ia merupakan salah satu “The Loser’s Club”, ia berhasil mempengaruhi teman-temannya untuk berani melawan si Badut Penari. Jack Dylan Grazer yang memerankan Eddie si anak mami yang membuatku sangat terkesan dengan racauannya yang tiada henti tentang kebersihan, lucu namun berisik tapi menggemaskan. Stephen Bogaert yang memerankan Ayah dari Baverly Marsh (Sophia Lillis) si gadis yang dikabarkan merupakan gadis kecil yang “rusak” sangat apik dalam memainkan perannya. Ia sangat berhasil memerankan sang Ayah yang selalu ingin putrinya selalu menjadi putri kecilnya yang justru membuatnya menjadi Ayah yang menyeramkan yang siap membunuh anaknya kapan saja.

Rumah-rumah, mobil, dan pemberian warna dalam film sangat bagus dan membuat kita yang menontonnya seakan benar-benar tenggelam pada masa di tahun 1980an. Suara-suara anak kecil tertawa seharusnya lucu, namun ini berhasil membuat siapapun yang menontonnya menjadi sangat terganggu. Efek suara yang terhentak-hentak berhasil membuat beberapa penonton berteriak sejadi-jadinya termasuk teman kantorku. Lagu New Kids on The Block sesekali terputar, mungkin tujuannya untuk cooling down  walau setelah itu langsung dikagetkan kembali dengan efek-efek suara yang munculnya tidak terduga.

Andres Muschietti sang sutradara sangat cerdas dalam membungkus film horor ini. Selain adegan mencekam, bumbu-bumbu kelucuan yang hadir dari beberapa pemain muncul membuat para penonton di bioskop tertawa terbahak-bahak. Bahkan adegan cinta monyet, keharuan yang muncul di film tersebut yang mampu mengoyak hati para penonton dikemas dengan sangat rapih membuat IT tidak hanya sebuah film horor yang monoton yang melulu menyeramkan, sadis, mengagetkan. Namun dengan begitu, kelucuan, manisnya cinta monyet, dan adegan haru yang ikut tersaji tidak menenggelamkan sensasi horor. IT tetap film horor, bukan komedi, bukan drama.

“Your hair is winter fire January embers. My heart burns there, too.” Sangat manis bagi gadis manapun yang mendapatkan kalimat itu dari pengagum rahasianya. Pengagum rahasia yang sangat tulus tanpa memberi tahukan sedikitpun siapa dirinya. Dengan tulus menolong dan melindungi gadis pujaannya walau cintanya tidak berbalas.

Film IT ini sangat worth it to watch. Film ini mengajarkan bahwa rasa takut yang ada di dalam diri kitalah yang sebenarnya dapat mencelakai diri kita sendiri.

4 thoughts on “Teror Badut Penari Melalui Rasa Takut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s