Resensi Buku: Kupilih Jalan Gerilya – Roman Hidup Panglima Besar Jenderal Soedirman

soedirman

Magelang dan Ambarawa menjadi saksi

Apa sebab rakyat dan tentara

menyerahkan nasibnya penuh dalam tangan pimpinan Pak Dirman

Tentara Inggris dapat bercerita,

tentang pengalaman yang pahit empat tahun lalu

waktu berhadapan senjata dengan Pak Dirman

betapa teguhnya tekad bulat pasukan Soedirman

di sekitar Tidar dan Rawa Pening

Demikianlah memang orang mengenal Pak Dirman

pada masa permulaan revolusi

Dan sekarang… Beliau gugur sebagai pahlawan sejati

(Cuplikan sajak “Sangkur Ujian” karya Direktur Jenderal RRI, Maladi, termuat dalam buku “Soedirman & Soedirman” yang diterbitkan oleh Pusat Sejarah TNI 2004)

 

Judul Novel: Kupilih Jalan Gerilya Roman Hidup Panglima Besar Jenderal Soedirman

Penulis: E. Rokajat Asura

Penerbit: Imania

Tahun Terbit: 2015

Tempat Terbit: Depok

Tebal: 270 halaman

“Yang sakit itu Soedirman, panglima besar tidak pernah sakit. Oleh sebab itu panglima besar mohon izin panglima tertinggi!” ujar Soedirman ketika Bung Karno menolak untuk gerilya. Soedirman yang sudah tidak lagi mempercayai jalur diplomasi, memilih untuk bergerilya walau dengan kondisi tubuhnya yang ringkih karena penyakit TBC yang dideritanya. Sebelah paru-parunya telah dikempiskan oleh dokter. “Apa pun namanya, duduk bersama untuk membicarakan nasib bangsa dengan Belanda, sama saja kita mengakui keberadaan mereka, Jo. Kita telah merdeka. Tak sepatutnya mereka mengganggu apa pun alasannya.” Ujar Soedirman kepada ajudannya, Soeparjo Rustam.

Kala itu, ketika Soedirman bergegas untuk bergerilya, Alfiah istri Soedirman sedang hamil lima bulan, mengandung putra bungsunya, Muhammad Teguh Soedirman. Berat memang Soedirman meninggalkan istri dan keenam anaknya. Namun demi mempertahankan kemerdekaan Negeri tercinta, Indonesia, tanpa setetes air mata dan ragu Soedirman melangkah keluar menuju belantara yang gelap dan dinginnya gunung pada malam hari. Sementara Alfiah dan anak-anaknya dititipkan di Keraton Yogyakarta. Dengan sorotan mata juga tekad yang tajam, Soedirman dengan ditandu anak buahnya dikarenakan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk Soedirman berjalan kaki, terus bergelirya melawan Belanda.

Kapten Simon Spoor yang memimpin Agresi Militer Belanda I dan II dalam upaya merebut kembali Indonesia terus memerintah untuk memburu Soedirman. Penghianat diduga berada di dalam kelompok gerilya karena Belanda selalu saja berada di dekat mereka. Namun, dengan strategi Soedirman dan campur tangan Tuhan, operasi pengejaran tersebut selalu gagal. Seperti pada saat Belanda mengepung Soedirman beserta anak buahnya, dengan kecerdikan akal Soedirman memerintahkan anak buahnya untuk memakai peci dan sarung, dan dibuatlah skenario seolah-olah tengah diadakan sebuah pengajian. Juga di saat lain ketika Belanda lagi-lagi berhasil mengepung Soedirman beserta pasukannya, tiba-tiba turunlah hujan lebat disertai petir dan atas izin Allah Yang Maha Kuasa, tentara Belanda dibuat takut akan hal tersebut dan pergi.

Dengan lika-liku perjalanan yang tidak mudah, Soedirman dan anak buahnya terus bergerilya dan satu per satu berhasil merebut kembali daerah yang dikuasi belanda dan membuatnya mundur. Kurang lebih selama 7 bulan bergerilya, setelah Soedirman mendapat sebuah surat dari Komandan Divisi II Gatot Soebroto yang juga sahabatnya, Soedirman pun kembali ke Yogyakarta. Kondisi Soedirman kala itu oleh dokter yang menanganinya dinyatakan sangat baik. Namun, takdir berkata lain. Kala itu, setelah melihat rapor putra-putrinya, Soedirman meminta Alfiah untuk membimbingnya membaca sahadat, dan Soedirman pun menghembuskan napas terakhirnya, dimana sebelumnya alam pun memberikan pertanda akan kembalinya Sang Jenderal ke pangkuan Illahi, Bendera Merah Putih tiba-tiba turun setengah tiang dengan sendirinya. Soedirman menang, ia gugur dengan damai didampingi sang isteri tercinta.

 

            Buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup Soedirman. Tidak hanya menceritakan kisah perjuangan Soedirman dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui jalan gerilya, melainkan romansa Soedirman dengan sang isteri, Alfiah yang dulunya sempat ditentang oleh keluarga Alfiah. Bagaimana Soedirman muda yang senang bermain sepak bola, juga Soedirman kecil yang sudah memiliki pemikiran-pemikiran hebat untuk usianya. Buku ini mengemas cerita perjalanan hidup Soedirman dalam bentuk novel, membuat para pembaca lebih mudah membayangkan kondisi yang dialami Soedirman kala itu. Tenggelam ke dalam cerita, emosi yang didapat ketika membacanya, seakan terkemas lengkap dalam buku ini.

Alur yang digunakan oleh E. Rokajat Asura dalam pengemasan buku ini yakni alur maju mundur, dimulai dari terdengarnya raungan mesin pesawat di langit Bintaran Timur tepatnya di rumah Soedirman, kemudian pembaca diajak kembali ke masa kecil Soedirman bersama adiknya—Samingan sepulang belajar dari surau, kemudian kembali ke masa detik-detik gerilya sampai gerilya, hingga kembalinya Soedirman ke Yogyakarta. Penyampaian cerita dimuat dalam bab per bab di setiap tempat yang pernah Soedirman singgahi.

Pendirian yang teguh dan keberanian membuat kita menang, setidaknya menang terhadap diri kita sendiri. Sosok pemimpin begitu melekat di diri Soedirman, sakit yang dideritanya tidak mampu memadamkan kobaran semangat di dalam dadanya sehingga memberikan suntikan energi kepada anak buahnya di saat-saat menegangkan ketika tentara Belanda berada di dekat mereka. Begitulah sedikit dari banyak yang dapat diambil dari kisah Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

9 thoughts on “Resensi Buku: Kupilih Jalan Gerilya – Roman Hidup Panglima Besar Jenderal Soedirman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s