Opo (BAB I)

IMG20170215130501

Previous Story: Prolog

BAB I

Sebuah Paguyuban

Banyak yang tidak diketahui oleh manusia tentang kami. Yang manusia tahu tentang kami hanyalah kucing pemalas yang takut air. Itu sama sekali tidak benar. Sesungguhnya kami adalah makhluk rajin, bahkan kami memiliki organisasi di setiap tempat tersebar di seluruh Indonesia.

Aku akan memperkenalkan sedikit banyak tentang organisasi yang aku ikuti. Kebetulan aku baru saja diangkat sebagai ketua di organisasi ini karena ketua sebelumku sudah lanjut usia dan diharuskan untuk pensiun. Organisasi kami dinamakan Paguyuban Kucing Kampung Indonesia. Perkumpulan kucing-kucing kampung dengan visi menyadarkan masyarakat Indonesia untuk memelihara kucing kampung.

Sudah bukan menjadi rahasia, banyak masyarakat Indonesia yang rela memelihara kucing-kucing ras yang harganya mahal bahkan perawatannya lebih mahal daripada kebutuhan hidup mereka sendiri. Namun kami, kucing asli Indonesia tidak sedikit dari kami yang terlantar. Padahal kami tidak perlu dibeli, makanan kami pun murah, perawatan kami tidak mahal, bahkan daya tahan tubuh kami jauh lebih bagus dari mereka kucing ras yang mudah sakit.

Namun, semua itu tetap saja tidak cukup untuk membuat seluruh masyarakat Indonesia sadar untuk memelihara kami. Kami harus susah payah berkeliaran di pasar, di warung makan, di jalanan untuk mencari makan bahkan tempat berteduh untuk menghindari teriknya matahari dan dinginnya hujan. Sudah sulit hidup kami, para manusia itu justru malah menendang kami, menghardik kami, bahkan tidak sedikit dari kami yang disiram air kotor demi membuat kami kapok dan tidak kembali lagi.

Mungkin manusia-manusia ini berpikir kalau jiwa kami adalah jiwa pencuri, sebenarnya hal itu hanyalah keterpaksaan alias jalan lain yang sangat tidak kami inginkan demi melangsungkan hidup. Dikarenakan hal tersebut, tidak sedikit dari kami yang bermusuhan dan saling mencakar demi bertahan hidup. Betapa mirisnya hidup kami.

Kucing ras mungkin saja memiliki bulu yang jauh lebih halus dari kami, lebih tebal dan panjang, bentuk telinga yang aneh-aneh, atau bahkan perawakan montok dan bongsor sehingga terlihat sangat lucu. Tapi, oh manusia cobalah lirik kami, kami tidak kalah lucu.

Aku melihat satu, dua, tiga, lima puluh, lima puluh satu, tujuh puluh, ya tujuh puluh kucing kampung yang ada di depanku. Tidak sedikit dari mereka yang sama sekali tidak lucu. Mereka kotor, banyak keropang karena bertengkar, jamur, dan kotoran di pinggiran mata. Aku menghela napas, kenapa tidak semua kucing kampung setampan aku dan selucu aku.

Lima kucing kampung di belakangku adalah jajaran yang termasuk ke dalam struktur organisasi. Unyu kucing kampung dengan bulu berwarana abu-abu dengan bulu dada berwarna putih wakilku yang sebentar lagi pensiun, Pusi kucing berbulu hitam berdada putih dari divisi rekruter, Milen kucing berbulu kelabu blasteran kampung dan ras Persia dari divisi kesehatan, Cahyo kucing berbulu putih dengan hitam melingkar di tubuhnya termasuk kucing paling muda dari divisi keamanan, dan si cantik Stevi kucing berbulu putih blasteran kampung dan ras Skotish dari divisi penampilan.

Milen dan Stevi walau mereka blasteran kucing ras, namun mereka menyatakan bahwa diri mereka murni kucing kampung. Diskriminasi yang mereka rasakan ketika melihat orang tua mereka yang berbeda itu membuat mereka memilih untuk melepaskan embel-embel keturunan ras yang mengalir di darah mereka. Walau secara fisik tetap saja mereka tetap terlihat blasteran.

Organisasi kami sebenarnya tersebar di seluruh Indonesia, hanya saja Pusatnya berada di kota Depok. Di bangunan inilah, pusat Organisasi kami berdiri. Paguyuban Kucing Kampung Indonesia. Dan aku, Opo yang kini memimpin mereka semua. Bukan tugas yang mudah, namun dengan semangat yang terus berkobar, aku akan meneruskan cita-cita Blangkon ketua sebelumku sekaligus sang pendiri yang sudah terlanjur pensiun sebelum cita-citanya terwujud.

Gedung PKKI begitulah kami disebut, tentu saja tidak diketahui oleh manusia. Gedung kami terletak di bawah tanah. Untuk mencapainya, ada jalan rahasia yang tidak diketahui siapapun kecuali kami para kucing kampung. Kami harus  melewati pohon rambutan di samping rumah keluarga yang memeliharaku, disana terdapat pintu rahasia yang menghubungan gedung PKKI. Dari pintu rahasia itu terdapat terowongan yang cukup panjang menuju bawah tanah dengan sistem keamanan yang cukup kuat. Hanya suara kami yang sudah terekam, yang dapat membuka pintu masuk ke dalam Gedung PKKI.

***

Aku naik ke atas meja makan untuk mengambil paha ayam goreng yang sangat aku sukai. Bukannya aku kelaparan dan suka mencuri, hanya saja aku sangat menginginkan paha ayam goreng itu. Kebetulan tidak ada orang, aku pun mengambilnya. Namun sial, aku ketahuan Ayah dan aku pun kabur sampai aku bertemu Kakak, Adek, Ibu, dan laki-laki yang tidak berasal dari keluarga kami bernama Sayang.

Usai dikerjai Sayang, aku kabur dari rumah hendak pergi ke Gedung PKKI, namun aku bertemu seekor gadis berwajah kecil, bertubuh kurus, buntutnya lancip, abu-abu hitam warna bulunya berdiri satu meter di hadapanku. “Hai!” sapanya.

“Siapa?”

Ia menggeleng. “Aku tidak memiliki nama. Bolehkah aku ke dalam rumah ini?”

Ah, walau tujuan organisasi kami adalah membuat masyarakat Indonesia memelihara kucing kampung, namun aku belum siap untuk memiliki saingan. Aku tidak ingin kasih sayang keluarga itu terbagi. Lagipula, masih banyak keluarga yang bisa ia datangi. “Tidak.” Jawabku singkat.

“Kenapa? Aku akan tetap masuk. Lagipula, kamu tidak memiliki wewenang untuk melarangku. Keluarga inilah yang akan memutuskan apakah mereka mau memeliharaku atau tidak.”

Gadis ini sangat menyebalkan. Ia melewatiku dan masuk ke dalam kawasan rumah. Aku mengikutinya dari belakang. Adek keluar dari rumah dan melihat gadis itu, ia tersenyum. Oh tidak, tampaknya ia menyukainya. Adek menghampiri gadis itu lalu menggendongnya dan membawanya ke dalam rumah. “Ibu! Ibu! Ada kucing perempuan! Aku kasih ayam yaa!!” teriaknya.

Apa? Ayam? Oh tidak, kenapa aku harus diam-diam mengambil sementara gadis itu dengan mudahnya diberikan ayam oleh Adek? Ini tidak dapat dibiarkan. Aku masuk ke dalam rumah mengikuti mereka. Adek mengambil sepotong ayam goreng lalu memberikannya ke gadis itu. Tidak! Aku sangat marah!! Aku menghampirinya dan berusaha untuk merebut ayam goreng yang sedang dimakan oleh gadis kurus itu. “Opo, jangan yaa.” Adek menyingkirkanku. Sial! Sungguh sial!!

Jiwa mudaku membuatku belum bisa bijak. Aku menyadari itu. Aku sangat terganggu dengan kehadiran gadis kurus itu. Adek mengelus-elusnya, tubuhnya naik-naik kesenangan. “Kamu aku beri nama Mpok yaa.”

Gadis itu menoleh ke arahku dan tersenyum licik. “Kini aku memiliki nama, namaku adalah Mpok.”

“Aku akan memusuhimu sampai kamu sendiri yang memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Tolong jangan ambil keluargaku.”

“Coba saja.” Jawabnya dengan sungguh percaya diri.

Gadis itu sangat menyebalkan. Aku meraung ke arahnya. Kakak dan Sayang keluar mendengar suara ribut yang kuhasilkan. Kakak dan Sayang tertawa melihatnya kemudian Kakak menghampiriku lalu menggendongku. “Uh, Opo cemburu yaa. Tenang aja ya Opo, aku tetep sayang sama kamu.” Kakak mengelus pipiku yang lebar ini. Oh menyenangkan sekali rasanya.

To be continued…

7 thoughts on “Opo (BAB I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s