Opo

IMG20170215130501

PROLOG

Sejak umurku 2 bulan, aku dibesarkan oleh sebuah keluarga, dan aku rasa mereka sangat menerima keberadaanku. Kebetulan aku ini adalah kucing yang sangat tampan untuk kaumku, dengan warna bulu kuning keemasan, wajah lebar, mata biru bundar, kaki gempal, dan buntut yang tebal. Namun seiring bertambahnya usiaku, warna mataku berubah menjadi kuning, menambah daya tarikku. Ketika aku berjalan, bokongku bergoyang ke kanan dan ke kiri membuat para manusia itu gemas padaku.

Namun manusia yang mereka panggil Ayah kadang mengomeliku dengan suara keras ketika aku naik ke meja makan dan mengambil sepotong daging ayam yang sangat kusukai. Ia mengawalinya dengan hentakan kaki ke lantai sembari mengeluarkan suara, “Sshh!!” aku pun kaget dibuatnya. Daging ayam yang sudah bertengger di mulutku tetap kupertahankan kemudian aku melompat dari meja makan dan instingku membuatku berlari terbirit-birit.

Seseorang mengikutiku, seorang gadis manis yang biasa dipanggil Kakak. Ia adalah satu-satunya orang yang tidak pernah mengomeliku. Setelah berada di pekarangan rumah, aku menghabiskan ayam kesukaanku ini. Kulihat dari buntut mataku Kakak perlahan menghampiriku, entah mengapa aku tidak ketakutan seperti saat Ayah menghampiriku.

Kakak sudah berada di sampingku dan ia berjongkok. Tangannya mendarat di kepalaku, kemudian ia mengelus buluku yang lembut ini. Ah nikmat sekali, aku sangat menyukai momen seperti ini. Rasanya hangat, belaiannya penuh dengan cinta. Ayam sudah habis, lidahku menjilat sisa minyak yang berceceran di sekitar mulutku. “Kakak~” ucapku namun aku yakin Kakak hanya mendengar kata “Meong~”.

Aku menghampiri kakinya dan ngusel disana. Tampaknya ia gemas padaku. Kakak menggendongku dan mengangkatku ke atas. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu kulihat seekor cicak di dinding. Mulutku bergeretak, kumisku naik turun kemudian aku menggeliat. Kakak menoleh ke arah mataku memfokuskan pandangan. Kakak menurunkanku, aku mendekati dinding. Tidak ada tempat yang bisa membuatku menanjak. Ekorku bergerak kanan kiri, seksi bukan?

Cicak buruanku pergi entah kemana, aku berbalik dan seorang gadis kecil yang sangat menakutkan datang. Kemana Kakak? Gadis kecil yang biasa dipanggil Adek yang menjadi mimpi burukku, yang terkadang begitu menyayangiku namun kadang sangat usil. Ia mendekatiku, aku merunduk takut. Ia berjongkok dan mengelus kepalaku, “Oh ini sangat enak. Tapi aku harus waspada.” ucapku yang tentu saja hanya terdengar, “Meong meong meong meong.” elusan itu perlahan menjadi sebuah remasan yang membuat buluku serasa tercabut. “Hoi Adek! Sakiit!!” puas mengerjaiku, gadis kecil itu masuk ke dalam.

Pintu gerbang terbuka, wanita yang paling aku sayang datang membawa kantong plastik berwarna hitam. Wanita ini yang selalu memberiku makanan ataupun kudapan. Dengan perasaan begitu senang, aku menghampiri wanita yang biasa dipanggil Ibu. Sambil mengelus-elus wajah ke kakinya, mataku terpejam. Aku endus kantong plastik yang dibawanya, namun sayangnya aku tidak mencium bau amis yang sangat enak. Aku pun tidak mengikutinya lagi. Aku memilih untuk merebahkan diri di lantai.

Angin di depan rumah ini membuatku mengantuk, perlahan bayang-bayang ayam, ikan, dan susu menghantui kepalaku. Sepertinya aku sudah berpindah ke alam mimpi. Aku berbaring dikelilingi oleh lautan susu, ayam di tangan kananku dan ikan di tangan kiriku. Aku mengunyah dua makanan ini sekaligus dan menyeruput susu yang menenggelamkanku dengan rakus. Aku benar-benar kucing yang sangat beruntung. Namun, sesuatu yang membuatku benar-benar sadar kalau aku sedang berada di dalam alam mimpi.

Dari kejauhan sesuatu yang besar berenang menghampiriku. Semakin mendekat semakin jelas, kepala manusia terlihat dengan rambut hitam, wajahnya kini terlihat. Ia memakai kacamata, senyumnya jahat kemudian mulutnya terbuka. “Oh tidak! Tidak! Ia ingin memakanku!!”

Mulutnya terbuka semakin lebar, kepalaku masuk ke dalam mulutnya dan ia menggigitku. Aku terbangun dari mimpi indahku. Masih belum begitu sadar, aku melihat orang yang ada di dalam mimpiku tadi sudah ada di depanku mengenakan jaket berwarna hitam dan merah. Warna merah mendominasi. Cara berdirinya menyebalkan, aku juga bisa. Bokong kanannya kenapa mencuat ke atas, ia tolak pingang tampak begitu sombong. Huh, padahal kalau aku manusia ia akan kalah tampan.

Aku memicingkan mataku, perlahan menjauh darinya. Kakak keluar, ia mencari keberadaanku dan ia berhasil menemukanku. Aku bersembunyi di kolong bangku agar Kakak tidak dapat menggapaiku, namun tangannya yang panjang membuatnya berhasil mengamitku. Aku tidak bisa melawan, kini aku sudah bertengger di gendongannya. Perasaanku tidak enak, Kakak menghampiri laki-laki menyebalkan yang dipanggil Sayang. Ia menyodorkan tubuhku yang begitu proposional ini ke Sayang. “Oh aku sangat membenci hal ini!” teriakku sembari membuat tubuhku kaku.

Kini tubuhku sudah berpindah ke gendongan Sayang. “Opo kenapa sih, sini main sama aku.” Ujarnya, ah sial suaranya kenapa begitu besar. Terdengar seksi. Aku benci laki-laki ini. Selain mencuri perhatian Kakak, ia sangat tampan. Tubuhku dibawa ke dalam. Awalnya buluku dielus-elus menggunakan tangan kecilnya. Namun lama-lama, ia tidak ada bedanya dengan Adek. Kepalaku diremas kencang kemudian aku dilempar begitu saja. “Sayang tolong ambilin si Opo.” Ujarnya menyuruh Kakak.

Aku agak bingung kenapa Kakak dipanggil Sayang oleh Sayang. Manusia itu sangat rumit. Kakak menurut, ia menghampiriku dengan riang. Reflek, tubuhku merunduk dan berusaha kabur. Namun Kakak yang lincah berhasil menangkapku. Aku kembali dibawa ke Sayang dan lagi-lagi aku dikerjai olehnya. Kakak tertawa begitu senang sembari merekam aktivitas kami dengan kamera di handphonenya. Aku memang sering menjadi model untuk difoto. Wajar, karena aku adalah kucing yang tampan. Aku Opo, si kucing tampan.

Ekorku bergerak cepat, beginilah kalau sedang kesal. Tanpa sadar, ekorku sudah bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tempo yang tidak pelan. Tidak jarang aku mengeluarkan suara tiap kali laki-laki itu menggerakkan tubuhku yang seksi ini. “Sayangnya aku dididik dengan kelembutan, jadi aku tidak bisa mengigit atau mencakarmu.”

“Apa Opo? Ngomong apa sih?” ujar Sayang. Ingin rasanya aku menampar wajahnya yang tampan itu. Kesal, aku pun menggeliatkan tubuhku dengan cukup keras sehingga Sayang kewalahan memegangku. Aku berhasil kabur dari genggamannya. Namun, belum jauh jarakku darinya terdengar langkah berat mendekat. Aku menoleh ke belakang, Sayang mengejarku. Kali ini aku tidak mau kalah, aku mempercepat langkahku—sedikit berlari. Mungkin aku terlihat payah saat ini, namun tidak seberapa ketimbang dilempar oleh Sayang.

Aku sudah berada di luar kawasan rumah, melewati celah kecil pagar berwarna hitam. Seekor gadis berwajah kecil, bertubuh kurus, buntutnya lancip, abu-abu hitam warna bulunya berdiri satu meter di hadapanku. “Hai!” sapanya.

To be continued.. BAB I

 

7 thoughts on “Opo

  1. “Seseorang mengikutiku, seorang gadis manis yang biasa dipanggil Kakak. ” luar biasa kamu ncesss!
    Terus oppo ketemu sayangnya opo lainnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s