Super Horor (Part III)

Previous Part.. Super Horor (Part II)

Mereka keluar dari kamar itu tanpa menutup pintu kamar kembali. Dan mereka menemukan sosok Kyuhyun di depan laptopnya. Namun, tidak seperti sedang bermain starcraft. Wajahnya terlalu serius dan sangat aneh.

“Itu dia Kyuhyunnya.” Kata Eunhyuk. “Hya, Kyuhyun. Kau itu sudah besar masih saja main starcraft.” Ledek Eunhyuk.

Tapi Kyuhyun hanya tersenyum simpul, tidak seperti Kyuhyun yang biasanya—membentak dan berteriak. “Dia sedang konsentrasi jangan diganggu.”

“Eh? Masih ada gudang bukan?”

“Oh iya.”

“Tapi—“

“Wae?”

“Lebih baik jangan kesana. Aku punya perasaan yang tidak enak. Ketika aku dan Febby—“

“Kau takut?” potong Siwon.

“Tidak.”

“Kalau begitu, tunjukkan!”

“Aiissh, kajja!”

Mereka berjalan ke gudang dan lagi-lagi pintu gudang tidak terkunci. Lampu ternyata dalam keadaan menyala dan bau itu datang lagi ketika membuka pintu. “Bau apa ya? Ketika buka pintu rumah, pintu kamar yang tadi, dan sekarang pintu gudang.” Gumam Siwon.

Ketika mereka sedang mencari keberadaan emas batangan, darah segar mengalir di balik kerdus usang. “Siwon, itu apa ya?”

“Hyukie hyung, pergi dari sini! Itu darah!”

“Mwooo?”

Mereka berlari terbirit-birit keluar dari gudang itu tanpa menutup gudang kembali. Rumah tersebut seperti hidup. Terdengar suara orang memasak di dapur, lalu ada yang sedang bermain piano, dan anak laki-laki berlarian di belakang Eunhyuk dan Siwon.

“Kyuhyun! Kita harus membawa Kyuhyun!” ujar Eunhyuk.

Mereka ke tempat Kyuhyun berada. Kyuhyun terlihat seperti tidak mendengar apa yang mereka dengar. “Kyuhyunie, ayo ke kamar!” kata Siwon—namun Kyuhyun tetap membatu.

“Kyuhyun ayolah cepat!!”

Suara piano semakin kencang dan menyeramkan. Siwon merasa tangannya dipegang oleh Kyuhyun. “Ayo Kyu— AAA!!“

Sosok Kyuhyun berubah menjadi sosok wanita dengan dahi yang berlubang. Siwon menarik tangannya dari genggaman wanita itu lalu menarik Eunhyuk untuk cepat melarikan diri.

Suara ribut yang ditimbulkan Siwon dan Eunhyuk membangunkan semua orang. Beberapa orang seperti Karu, Wookie, Kyuhyun, dan Henry sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Cepat! Cepat berkumpul!” perintah Siwon.

Semua yang sudah berkumpul di luar kamar memasuki kamar yang ditempati Siwon, Henry, Eunhyuk, dan Donghae. Wajah Siwon dan Eunhyuk sudah sangat pucat dan berkeringat. “Sudah kubilang kalian jangan menantang!” teriak Henry.

“Katakan! Katakan! Sebenarnya apa yang terjadi disini?” teriak Eunhyuk pada Karu—frustasi.

“Tapi sebelumnya, ceritakan dulu apa yang sebenarnya telah terjadi pada kalian? Apa yang kalian lakukan hingga seperti ini?” tanya Karu berusaha untuk bersikap tenang walaupun sebenarnya dia tidak kalah takut dengan Eunhyuk dan Siwon.
Siwon yang merasa lebih bisa mengendalikan diri mewakili dirinya dan Eunhyuk untuk bicara. “Tadinya kami memang ingin melihat hantu, tapi tiba-tiba aku teringat kata-katamu akan emas batangan itu. Bukan niat kami untuk mencuri, kami hanya penasaran saja.”

Mata Karu terbelalak. “Kalian—“

“Ya, kami memasuki kamar dan gudang yang kau ceritakan tapi kami tidak menemukan apa-apa. Ketika kami membuka pintu itu ada sebuah udara yang sangat busuk menampar wajah kami—udara yang seperti pertama kau membuka pintu rumah ini.”

“Astaga! Kalian—“

“Kenapa memangnya? Kenapa kau memarahi kami? Setelah kami keluar dari sana, ada Kyuhyun yang sangat aneh—”

“Itu bukan diriku hyung. Tadi aku memang kesana untuk main starcraft tapi aku malah ditampakin anak laki-laki yang menyeramkan.” Potong Kyuhyun.

“Iya aku tahu itu. Yang bukan Kyuhyun itu tiba-tiba berubah menjadi wanita dengan dahi berlubang. Waa, pokoknya menyeramkan sekali.”
Wajah Karu jadi lebih pucat dari Siwon dan Eunhyuk. Febby dan Cummie saling berpelukan dan mengawasi setiap sudut berjaga-jaga kalau ada penampakan.

“Pintunya? Apa kalian menutupnya?”

“Kami tidak menutupnya. Kenapa?” jawab Siwon.

“AAA!! Kalian bodoh sekali! Sudah kuperingatkan kalian jangan masuk ke sana.”

“Tapi Karu, kalau kau menceritakan yang sebenarnya dari awal mereka tidak akan kesana.” Protes Zhoumi—membela temannya karena merasa semua itu salah Karu.

“Maaf, bukan aku membela Karu. Disini aku hanya ingin meluruskan agar tidak terjadi perdebatan.” Kata Wookie, lalu dia meneruskan. “Karu tidak menceritakan yang sebenarnya karena dia khawatir kalian akan ketakutan. Menurutnya, kalau kita tetap bersama mereka tidak akan mengganggu.”

“Tapi itu tidak adil bagiku.” Potong Henry.

“Iya Henry, maaf biar aku lanjutkan. Kalau Kyuhyun tidak bermain starcraft maka mereka tidak akan mengganggumu dengan masuk ke kamar, benar bukan?” Karu mengangguk. “Dan kalau Siwon hyung dan Eunhyuk hyung tidak memenuhi rasa penasaran kalian, maka tidak akan kacau seperti ini. Jadi, karena Karu dan kalian tidak tahu akan seperti ini jadinya, alangkah baiknya kalau tidak ada yang saling menyalahkan.”

“Oh Wookie, mana dirimu yang manja? Disini aku menemukan sikapmu yang sangat bijaksana. Aku kagum akan hal itu.” Puji Sungmin.

“Terimakasih hyung. Karu, apa yang akan terjadi kalau pintu itu tidak ditutup?”

Karu berkeringat dingin. Cummie dan Febby sudah menangis. “Siwon oppa, Eunhyuk oppa, apakah kalian tahu mengapa pintu itu tidak terkunci?” Siwon dan Eunhyuk menggeleng, walau Karu tidak melihatnya Karu tahu kalau mereka menggelengkan kepala, lalu dia meneruskan. “Karena apabila pintu itu terbuka maka pintu keluar akan terkunci.”

“M-maksudmu?” tanya Zhoumi.

“Karu, kamu ngomong apa sih? Yang jelas dong, jangan kayak cenayang gitu!” bentak Febby.

“Febby, dengerin Karu aja dulu. Kita diem aja.” Kata Cummie.

“Febby, aku berkata perlahan seperti ini agar kalian tidak shock jadi tolong jangan membentakku dulu.”

“Baiklah, sekarang katakan yang jelas.” Kata Febby, dia sudah benar-benar ketakutan dan kesal pada Karu yang telah membawanya ke lingkaran setan.

“10 tahun lalu, ada sebuah pembunuhan beranta di rumah ini. Seorang ayah ketahuan berselingkuh dengan pembantunya oleh sang istri, dan sang istri pun menusuk pembantu itu dengan pisau. Donghae oppa, laki-laki yang kau lihat di bangku itu adalah pria itu. Henry oppa, wanita yang kau lihat di kamar mandi adalah pembantu itu. Karena belum puas, sang istri pun mencoba untuk membunuh suaminya tapi gagal dan dia malah terbunuh oleh suaminya dengan pisau tepat di dahinya. Dan yang Siwon oppa dan Eunhyuk oppa lihat itu adalah istri yang terbunuh itu. Ketiga anaknya—terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan melihat kejadian itu dan mereka sangat marah dan berusaha untuk memukul ayahnya. Karena pikirannya sedang kacau, sang ayah pun membunuh ketiga anaknya. Wookie oppa, anak perempuan yang memencet tuts piano itu adalah dia yang terbunuh. Dan yang menginjak kaki Kyuhyun oppa di meja makan dan yang muncul di hadapanmu tadi mungkin saja itu adalah anak laki-laki.”

“Karu, kalau kompor nyala sendiri?” tanya Cummie—itu pula yang ingin Sungmin tanyakan sejak tadi.

“Mungkin itu adalah kerjaan si pembantu.”

“Karu, tadi kau bilang kalau pintu kamar dan pintu gudang terbuka maka pintu keluar akan terkunci. Apakah itu berarti kita tidak akan bisa keluar?” tanya Henry.

“Kau benar.”

“Jelaskan yang benar!” teriak Zhoumi.

“Zhoumi, jangan membentak. Please.” Kata Donghae.

“Sekarang ini kita sudah bukan di dunia tempat kita berada. Pintu itu menghubungkan dunia lain dimana makhluk yang tinggal disana akan menjadi lebih kuat dari kita. Ketika pintu itu tetap tertutup, mereka hanya bisa mengganggu kita tanpa bisa menyakiti kita. Tapi sekarang, dengan pintu itu terbuka mereka bisa melakukan apa saja sesuai keinginan mereka. Sebelum pintu itu terbuka, kita sebagai manusia penguasa bumi ini bisa menyuruh mereka untuk tetap tinggal atau pergi. Tapi setelah pintu itu terbuka, mereka yang bisa melakukan hal itu. Beruntung bila mereka tidak ingin kehadiran kita, tapi kalau mereka menginginkan kehadiran kita untuk mengganggu—ah, aku sendiri penakut aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”

“Karu, boleh aku menebak?” tanya Kyuhyun.

“Apa?”

“Berarti yang sekarang ini adalah ruh kita? Jasad kita tidak ada disini?”

“Ya, kau benar sekali Kyuhyun oppa. Jasad kita sedang tertidur, tapi ruh kita menyeberang. Apa kalian mau melihat diri kalian?”

“Dimana?” tanya Febby.

“Lihatlah ke cermin di lemari itu, maka di tempat tidur akan ada Henry dan Siwon, juga Eunhyuk dan Donghae.”
Mereka berbondong-bondong melihat ke cermin itu. Benar yang dikatakan Karu. Mereka bisa melihat Henry, Siwon, Eunhyuk, dan Donghae sedang tertidur pulas seperti tidak ada gangguan.

“Apa ada jalan keluarnya?” tanya Donghae.

“Ada, yaitu menunggu.”

“Apa maksudmu?” tanya Zhoumi.

“Seseorang yang datang ke rumah ini lalu membangunkan kita. Setelah kita terbangun, kita harus cepat-cepat menutup pintu itu kembali.”

“Kau tahu darimana itu adalah jalan keluarnya?” tanya Zhoumi.

Air mata Karu keluar, dia sudah tidak tahan ingin menangis dari tadi. “Maafkan aku. Maaf! Tidak seharusnya aku membawa kalian kesini.”

Kyuhyun menghampiri Karu lalu memeluknya. “Tidak apa-apa. Kita sudah terjebak disini, sekarang yang bisa kita lakukan adalah bertahan. Ceritakan, kau tahu darimana semua ini?”

Karu mencoba untuk menenangkan diri. “Keluarga yang memiliki rumah ini adalah sebenarnya—bibiku. Dia adalah anak angkat kakekku. Ketika seluruh anggota keluarga meninggal, kakekku sangat terpukul. Walau hanya anak angkat, dia sangat menyayangi bibiku. Untuk mengenang mereka, kakekku memilih untuk menempati rumah ini. Dia melakukan hal yang sama seperti Siwon dan Eunhyuk, dia membuka pintu kamar itu dan gudang itu hanya untuk mengenang. Tapi, hal itu malah membawanya kesini. Kakekku berusaha bertahan dengan roh mereka yang tidak tenang. Sebenarnya mereka tidak jahat, hanya tidak tenang jadi mereka cenderung melakukan hal yang jahat dan keji. Selama lima hari kami tidak melihat kakekku, akhirnya Ayahku datang ke rumah ini dan menemukan kakekku dengan kondisi yang babak belur dan mata menangis namun dia tidur. Ayahku membangunkannya, lalu kakekku langsung memeluk Ayahku dengan erat. Tidak buang-buang waktu, kakekku langsung menutup pintu kamar dan pintu gudang. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang diizinkan masuk ke rumah ini oleh kakekku. Tapi aku nakal, aku memasukkan kalian kesini tanpa izinnya.”

“Papahku.” Gumam Febby.

“Apa Febby?” tanya Eunhyuk.

“Satu-satunya orang yang tahu keberadaan kita disini adalah papahku. Tapi, kapan papahku akan mengunjungi kita?”

“Benar. Febby benar. satu-satunya harapan kita adalah kedatangan papah Febby.” Ujar Karu.

Ketika mereka sedang berunding, tiba-tiba pintu kamar terbuka membuat mereka tersontak kaget. Febby berteriak—dia yang paling kacau. Eunhyuk memeluknya untuk menenangkan Febby.

Dari luar kamar, dua orang anak laki-laki berlarian mengitari kamar. Seperti ingin masuk ke kamar namun tidak bisa. “Kenapa dia tidak bisa masuk?” tanya Henry.

“Mereka tidak akan bisa mendekati kita asalkan ada cahaya. Makanya, ketika kita masuk ke rumah ini aku menyalakan semua cahaya. Siapa yang mematikan lampu?!”

“Aku.” Jawab Kyuhyun takut-takut.

“Astaga oppa!” Karu memukul Kyuhyun yang berada sangat dekat dengannya. “Apa saja yang tidak kau matikan?”

“Dapur, ruang piano, ruang makan, aa pokoknya ruangan yang tidak aku lewati. Ruang yang aku lewati adalah depan kamar dan ruang nonton TV.”

“Aman, benar hanya itu?”

“Benar. Asalkan tidak ada pemadaman listrik di dunia ini.”

“Ya tidak ada, tapi aku tidak tahu seberapa kuat mereka akan cahaya. Aduh, aku mau berteriak saja.”

“Jadi, sementara kita aman disini?” tanya Siwon.

“Tunggu, kakekku bilang dia berpindah-pindah karena tiap dua jam sekali lampu akan padam sendiri. Begitu seterusnya. Tapi nanti akan nyala lagi ketika sudah dua jam.”

“Bagaimana kita bisa melewati depan kamar kalau kamar ini mati? Disana kan lampunya mati.” Kata Cummie.

“Iya, kau benar.”

“Cari senter!” usul Wookie.

“Aku tahu dimana.”

Karu berjalan mendekati lemari, namun puncak lemari sangat tinggi sehingga dia tidak sampai. Begitu pula dengan Siwon yang paling tinggi disana tidak sampai. “Febby, naik ke punggungku!” kata Siwon.

“Kenapa aku?”

“Menurutku, kau yang paling ringan disini. Cepat!!”

Tanpa berpikir panjang, Febby menuruti kata-kata Siwon dan menaiki punggungnya. Dia menemukan senter dengan diameter besar berjumlah dua. Dia mengambil semuanya. “Hati-hati!” kata Sungmin.

Febby berhasil mengambil senter itu dengan selamat. Tapi naas, tidak ada baterai disana. “Aaaaa, tidak ada baterainya Karu!” protes Febby.

“Cari! Cari!”

Sudah hampir dua jam mereka mencari batu baterai namun tidak juga menemukannya. Dan lampu pun mati. Febby berteriak-teriak. “Semua berkumpul kediriku!!” teriak Karu—sudah dengan senter menyala.

Kini di hadapan mereka semua hantu mengelilingi mereka. “Donghae oppa, pegang yang ini.” Karu melempar senter ke Donghae. “Febby, jangan takut ya. Semua jangan takut.”
Febby tidak henti-hentinya terguncang. Eunhyuk memeluknya untuk menenangkan.

Hantu wanita yang dahinya bolong itu berusaha untuk menangkap tubuh Febby namun Karu selalu memberikan cahaya.

“Aku, Febby, Eunhyuk, Kyuhyun, dan Siwon kita satu regu. Donghae, Cummie, Sungmin, Wookie, Zhoumi, dan Henry kalian satu regu. Reguku akan keluar duluan.”
Karu, Febby, Eunhyuk, Kyuhyun, dan Siwon saling berpegangan tangan dan merapat. Hantu pria dan pembantu itu mengikuti mereka berdua. “Menyeramkan sekali!” pekik Febby.

“Kau jangan melihat!” kata Eunhyuk berusaha melindungi Febby.

“Ayo kita ke kamar kita.” Usul Karu.

Mereka melihat sebuah cahaya—yang berasal dari kamar yang tadi ditempati Karu, Febby, dan Cummie lalu masuk ke dalamnya. “Kita punya waktu dua jam lagi. Hematlah baterai senter dan coba cari senter lagi.” Perintah Karu.

Siwon dan Kyuhyun mencari-cari senter di atas lemari dan mereka menemukan dua buah senter. Ketika Siwon mengetes senter itu, ternyata sudah ada baterainya. “Yang ini untuk kelompok Donghae.”

Karu dan Eunhyuk masih menenangkan Febby yang sangat terguncang. “Karu, aku takut sekali. Aku tidak sanggup melihat mereka, bagaimana kalau aku mati karena mereka?”

“Tidak akan.”

“Kenapa kau sangat percaya diri?”

Ketika Febby sedang membentak Karu, kelompok Donghae masuk. Tapi, Wookie tersandung dan dia tertinggal. “Tolong aku!!” Pekiknya.

Kaki Wookie ditarik oleh hantu pria, tapi Donghae dan yang lainnya berusaha menarik Wookie. “Aaaa!!” teriak Wookie sejadi-jadinya.

Ketika mereka berhasil meraih Wookie, mereka tahu apa yang terjadi padanya. Kaki Wookie berlumur darah. “Kenapa ini?” tanya Donghae melihat celana Wookie yang robek dan ada darah disana.

“Karu, katamu aku tidak akan mati karena mereka! Mana?! Mereka berusaha membunuh Wookie.” Teriak Febby.

“Febby, sudah.” Kata Eunhyuk.

Zhoumi merobek seprai dan membungkus kaki Wookie yang berdarah cukup banyak. Para hantu itu memandangi mereka dan tertawa dengan suara yang sangat menyeramkan. “Karu!” teriak Febby.

“Febby, aku tahu aku salah. Tapi bisa tidak kau tidak menyalahkanku terus?! Dengan kau menyalahkanku terus apa bisa kita kembali? Kalau aku mau main salah-salahan, aku bisa saja membela diriku dan menunjuk Eunhyuk dan Siwon sebagai dalang kita berada disini. Kalau mereka tidak membuka pintu, maka kita tidak akan kesini. Jadi, please Febby  jangan buat aku semakin tertekan. Tidak aka nada yang mati dari kita. Kata kakekku, mereka hanya senang melukai dan menakuti kita tapi mereka tidak punya kemampuan untuk mengambil nyawa kita.”

“Tapi Karu, aku bisa mati ketakutan!!”

Karu sangat frustasi dengan lontaran-lontaran yang begitu pedas dari Febby. Dia selalu ditekan, tapi dia tidak bisa marah pada Febby karena memang disini dialah yang paling bersalah.

“Febby, tolong jangan egois. Kalau Karu tidak mengajak SuJu M kesini, mereka mau ditaro dimana? Di hotel? Tidak mungkin, karena transportasi dilarang beroperasi.” Cummie berusaha untuk menengahi.

“Benar kata Cummie. Febby, aku pun takut—sangat takut. Tapi, kita harus bekerja sama.” kata Henry.

Febby terdiam. Sebenarnya, dia pun tidak ingin terus-terusan menyalahkan Karu tapi dia sangat ketakutan dan ingin sekali cepat-cepat keluar dari rumah itu.

“Ini, kau beri untuk siapa saja.” Siwon melemparkan senter ke Donghae.

“Cummie, Sungmin, dan aku. Henry, Wookie, dan Zhoumi. Henry dan Zhoumi kalian jaga Wookie ya?” ujar Donghae.

“Aku akan menjaga Wookie.” Jawab Zhoumi.

“Baiklah, aku nanti akan bersama Eunhyuk dan Febby. Karu, kau bersama Kyuhyun. Kalau menemukan senter dan kita bisa pegang sendiri-sendiri itu lebih baik.” Kata Siwon.

***
Dua jam sudah berlalu, lampu redup dan hantu-hantu itu kembali menghampiri mereka. Dengan sigap, mereka menyalakan senter. Karu dan Kyuhyun pergi duluan mereka menelusuri tangga dan pergi ke tempat dekat piano putih berada. “Kenapa kesini Karu?” protes Kyuhyun.

“Lebih baik kalau kita berpencar. Kalau kita bersatu, maka mereka pun akan bersatu.”
Tapi sial bagi mereka. Entah kenapa, lampu di ruang sana tiba-tiba redup. “Karu, bagaimana kalau kita kehabisan baterai?”

“Kenapa sejak tadi orang-orang selalu bertanya padaku? Ya aku tidak tahu jawabannya.”

Kyuhyun tidak berkata-kata lagi. “Kyuhyun oppa, maafkan aku. Aku sangat frustasi.”

Hantu gadis kecil itu terlihat sangat marah. Menggunakan gaun yang berlumur darah, hantu gadis itu memainkan piano. Suaranya sangat menyeramkan dan membuat pertahanan mereka melemah. “Kita harus pindah dari sini.” Kata Kyuhyun. “Ayo bergerak.”

Mereka menjauh dari ruang itu—lagi hantu gadis kecil itu mengikuti mereka. Tiba-tiba, lampu senter mereka mati. “Mati!”

Mereka berlari dengan hantu gadis itu masih mengejar mereka. Mereka tidak menemukan ruang apapun yang menyala. Hanya kamar utama yang tidak boleh dimasuki yang masih bercahaya.

Karena panik, mereka tidak bisa berpikir panjang dan masuk ke dalam kamar itu. Hantu gadis itu kembali berhenti di depan kamar itu lalu menghilang. “Karu, kemana perginya hantu itu?”

“Kyuhyun, kita berada di kamar utama.”

“Apa?”

“Dan hantu itu menghilang. Aneh sekali.”

“Apa kita akan selalu aman bila berada disini?”

“Kyuhyun, awas!!”

Seorang pria memegang pisau menghunuskan pisaunya ke kepala Kyuhyun. Kyuhyun berdarah dan mati seketika.

To be continued_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s