Super Horor (Part II)

This is a continuation of the previous part.. Super Horor (Part I)

Tiba-tiba, tuts piano berbunyi sendiri satu kali. Karu begitu kaget dan langsung memeluk Wookie. Wookie melihat seorang anak perempuan berwajah pucat berdiri memandangi mereka dengan jari telunjuk berada di salah satu tuts piano.
Ketika Wookie berkedip, anak perempuan itu hilang dalam sekejap. “Ada orang lain disini.”

Karu langsung melepaskan pelukannya karena merasa kurang sopan. “Benarkah?”

“Tadi aku melihat anak perempuan disana.” Wookie menunjuk piano putih itu.

“Anak perempuan?” Karu mengulang kata-kata Wookie—dia teringat akan cerita dari kakeknya kalau ada anak perempuan di keluarga yang menempati rumah ini 10 tahun lalu.

“Iya, sekarang kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini.”
Karu menceritakan semuanya hingga tidak ada yang terlewat. “Maaf oppa, aku menyembunyikan hal ini karena aku tidak mau mereka menjadi takut. Apa oppa mau menjaga rahasia ini?”

“Tapi, ini sungguh berbahaya.”

“Dimana lagi kalian akan tinggal? Tidak ada transportasi yang boleh lewat. Tidak mungkin kalian tinggal di rumahku, di rumah Febby, atau di rumah Cummie pasti tidak akan cukup ruangannya.”

“Baiklah, aku akan merahasiakan hal ini pada mereka.”

“Oppa, kau tidak takut?”

“Tidak. Ayo kita kembali ke yang lain.”

***

“Kau pintar memasak ternyata?” puji Sungmin pada Cummie.

“Biasa saja.”

Tiba-tiba, kompor gas menyala sendiri membuat Cummie dan Sungmin kaget bukan main. “Astaga, kenapa bisa begitu?” Sungmin mematikan kompor gas.

“Oppa, menakutkan sekali disini.” Lirih Cummie.

“Mungkin karena sudah lama tidak dipakai jadi agak-agak konslet.”

Sungmin meyakinkan Cummie kalau tidak ada apa-apa disini dan kejadian aneh tidak terjadi lagi sampai mereka selesai memasak.

“Makanan sudah siaap!!” Teriak Sungmin.

Semuanya berbondong-bondong ke meja makan dan mulai makan dengan sangat tenang. Tapi, ketika sedang makan seperti ada yang menendang kaki Kyuhyun. “Hyung, jangan bercanda begitu dong kalau lagi makan.” Protes Kyuhyun pada Zhoumie.

“Kau ini bicara apa? Sejak tadi kakiku diam.”

“Kau ya?” Kyuhyun menunjuk Siwon.

Mata Karu dan mata Wookie saling berbicara. Merekat tahu apa yang baru saja mengganggu Kyuhyun.

“Hya! Apa itu?!” pekik Donghae sambil menunjuk bangku tempat mereka tadi berkumpul nonton TOP K-POP yang kosong.

“Kenapa?” tanya Karu dan Wookie berbarengan.

“Tadi, aku seperti melihat seorang namja. Tidak, tadi seperti bapak-bapak gitu. Tapi langsung hilang.”

“Imajinasimu saja kali hyung.” Kekeh Wookie.

“Ah, mungkin saja. Huff, aku kaget sekali.”

“Toilet dimana?” tanya Henry tiba-tiba.

“Ayo kuantar.” Tawar Karu.

“Aku ikut!” kata Wookie merasa terlalu berbahaya bila hanya Karu saja yang menemani sementara Henry tidak tahu apa yang sedang terjadi di rumah ini.

***
Henry membuka kamar mandi dan membuka closet lalu membuka resleting celananya untuk buang hajat. Setelah selesai, Henry pun berbalik dan tiba-tiba ada seorang perempuan mengenakan daster berwarna merah sedang membersihkan sudut-sudut kamar mandi.

Henry berteriak sambil menutup mata. “Oppa, Henry oppa!”

Wookie dan Karu menggedor-gedor pintu kamar mandi namun tidak ada reaksi dari Henry yang masih berada di dalam. Karu menoleh ke belang dan sudah ada seorang wanita dengan kening yang bolong tersenyum padanya—Karu kembali merapat ke Wookie tanpa merengek kalau dia habis melihat hantu.

Pintu kamar mandi terbuka dengan wajah Henry yang begitu pucat. Henry tersungkur ke depan dan ditangkap oleh Wookie dan Karu. “Henry, kau kenapa?” tanya Wookie.

“I saw a women, right there.” Henry menunjuk sudut yang kosong tidak ada apa-apanya.

“Cepat bawa dia ke kamar dan tolong katakan pada yang lain agar cepat tidur.” Kata Karu.

***
Semua menuruti perintah Wookie—kebetulan memang semua sudah pada kelelahan jadi mereka menuruti kata-kata Wookie.

Ketika semua orang sudah tidur, Kyuhyun yang tidak betah bila semalam saja absen bermain starcraft langsung mengeluarkan laptopnya untuk bermain game tersebut.

“Aiissh, kenapa lowbat?” dengus Kyuhyun.

Kyuhyun mengeluarkan charger dari tasnya lalu mencari soket di kamar itu tapi dia tidak menemukan soket sama sekali. “Aiissh, kamar ini sangat besar. Tapi kenapa tidak ada soket? Ah, menyebalkan sekali!”

Kyuhyun pantang menyerah hanya karena tidak ada soket di kamar itu. Kyuhyun pun keluar dari kamar lalu menuruni tangga untuk mencari soket. “Kenapa rumah ini terang sekali? Lebih seru kalau main game sambil gelap-gelapan.” Ujar Kyuhyun sambil mematikan lampu di tempat yang dia lewati.

“Masih ada orang di dapur malam-malam begini?”

Karena terdengar seperti ada orang yang sedang memasak, Kyuhyun mengintip sebentar. Namun, tidak ada apa-apa di dapur. “Jelas-jelas tadi aku mendengar ada orang sedang masak. Kenapa kosong?”

Kyuhyun tidak peduli, dia lanjut mencari soket dan akhirnya dia menemukan di dekat TV. Karena tidak ada tempat yang kosong, akhirnya Kyuhyun mencabut kabel TV dan mengganti posisinya dengan kabel charger lalu bermain starcraft.

“Ayo Cho Kyuhyun!”

Ketika sedang asyik bermain starcraft, TV menyala sendiri. “Omo! Mengagetkan saja.”

Kyuhyun mengambil remot TV lalu memencet tombol off tapi tidak ada reaksi dari TV tersebut. Karena kesal, Kyuhyun ingin mencabut kabelnya saja. “Mwo? Kabel yang tadi aku cabut adalah kabel TV? Tapi, kenapa TV masih menyala?”

Bulu kuduk Kyuhyun jadi merinding ditambah dia mendengar suara orang bermain piano di ruang sebelah. Karena sudah tidak tahan dengan keanehan itu, Kyuhyun mematikan laptopnya dan menutup laptop.

Ketika dia menutup laptop, ada sosok wajah di balik laptopnya. Wajah seorang bocah laki-laki dengan leher yang robek. “Aaaa!” Teriak Kyuhyun.

Anak kecil itu tertawa. Dengan susah payah, Kyuhyun berlari dari sana tanpa membawa laptopnya dan memijaki anak tangga satu per satu dengan kaki yang lemas.

Dia menoleh ke belakang—anak laki-laki itu masih mengejarnya sambil tertawa. Kyuhyun meraih gagang pintu dengan gesit dan masuk ke kamarnya lalu bergabung dengan Sungmin. “Aww, Kyuhyunie sakit tahu!” protes Sungmin.

Kyuhyun tidak menjawab apa-apa. Wajahnya penuh dengan peluh dan sangat pucat.

“Kyuhyunie, kau kenapa?”

“Hyung, aku tadi melihat hantu.”

Sungmin jadi teringat dengan kompor gas yang menyala sendiri. Sejak kejadian tadi, Sungmin merasa ada yang aneh di rumah itu. “Hantu seperti apa?”

“Anak laki-laki dengan leher yang robek dan dia mengejarku. Hyung!!” Kyuhyun memeluk Sungmin—menangis karena sangat ketakutan dengan apa yang baru saja dilihatnya.

“Kau bermain game ya?”

“Iya hyung, dan laptopku tertinggal di bawah. Kalau diambil bagaimana?”
Sungmin tertawa mengingat Kyuhyun dalam keadaan ketakutan seperti ini masih peduli dengan laptopnya. “Makanya, jangan main game malam-malam. Sudahlah, mungkin tadi hanya imajinasimu saja. Sekarang kita tidur.”

***
Henry berkeringat. Sejak tadi tidurnya sangat gelisah. Hal tersebut membuat Siwon tidak bisa untuk tidak peduli. “Henry, kamu kenapa?”

“Siwon, apakah kau percaya dengan hantu atau semacamnya?”

“Aku percaya. Kau habis melihat hantu?” Henry mengangguk. “Dimana?”

“Kamar mandi bawah.”

Siwon jadi tertarik. “Seperti apa?”

“Seorang wanita sedang membersihkan kamar mandi. Mungkin dia adalah pembantu. Siwon, aku takut sekali sumpah.”

“Apa kau mau melihatnya lagi?”

Siwon benar-benar menjadi penasaran. “Kau gila.”

“Kenapa? Aku hanya ingin melihat.”

“Tapi Siwon, sangat menyeramkan. Kau tidak akan kuat bila melihatnya secara langsung.”

“Baiklah, kalau kau tidak mau melihat aku akan memabangunkan Eunhyuk.”

“Siwon, kau jangan macam-macam.”

“Mereka hanya makhluk halus dan tidak bisa menembus kita. Sedangkan kita makhluk kasar, jadi kau tidak perlu khawatir.” Siwon menghampiri tempat tidur Eunhyuk, lalu membangunkannya. “Hyukie, kau mau melihat hantu?”

Eunhyuk yang masih antara sadar dan tidak sadar, menggeliat malas. “Hantu? Dimana?”

“Di kamar mandi bawah.”

“Memangnya ada?”

Tiba-tiba saja, keinginan Siwon untuk melihat hantu jadi hilang karena teringat akan emas batangan yang dibicarakan Karu tadi. “Hyukie, kau ingat dengan emas batangan yang dibicarakan Karu?”

“Kenapa? Kau ingin mencurinya? Sejak kapan Choi Siwon menjadi seorang pencuri?”

“Hya! Enak saja, aku hanya penasaran dan ingin melihat. Ini sebuah tantangan bukan? Mau tidak?”

Eunhyuk terlihat menimbang-nimbang. “Boleh.”

“Good job, kajja!”

***
Mereka menuruni tangga dan melihat ada laptop Kyuhyun di meja dekat ruang TV. “Itu laptop Kyuhyun bukannya?” tanya Eunhyuk.

“Benar. Tapi, kenapa tidak ada Kyuhyunnya?”

Mereka tidak peduli dengan laptop Kyuhyun dan segera melesat ke kamar utama yang Karu bicarakan.

“Tidak terkunci.” Kata Siwon. “Aneh sekali, katanya ada emas batangan tapi tidak dikunci.”

“Cepat masuk.”

Mereka masuk ke kamar tersebut dan bau busuk seperti pertama mereka masuk ke rumah itu tercium lagi lalu menghilang. Kamar itu sangat gelap—Siwon meraba-raba mencari saklar lampu.

Ketika lampu sudah menyala, mata mereka jelalatan mencari ‘emas batangan’ yang Karu bicarakan. “Tidak ada apa-apa. Dimana kira-kira mereka meletakkannya?”
Mereka menyapu bersih seisi kamar itu namun masih tetap tidak menemukan emas batangan. “Aaah, yeoja itu pasti berbohong.”

Mereka keluar dari kamar itu tanpa menutup pintu kamar kembali. Dan mereka menemukan sosok Kyuhyun di depan laptopnya. Namun, tidak seperti sedang bermain starcraft. Wajahnya terlalu serius dan sangat aneh.

To be continued_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s